Tayangan televisi ini terlihat… menentramkan. Saya tahu kedengaran aneh. Tetapi itulah kenyataannya. Saya merasa terbuai dengan ucapan pembaca berita. Saya sudah tidak menghiraukan apa yang disampaikan. Saya hanya mendengar suara yang semakin samar. Semakin samar. Dan…

Dan saya memejamkan mata sebentar.

Tidak! Jangan tertidur! Saya memaksa untuk sadar kembali. Di tempat asing sini, terlalu berbahaya jika tertidur. Tetapi lagi-lagi mata saya terasa berat sekali, saya mencoba memfokuskan diri.

Saya menepuk-nepuk kepala.

Jangan! Jangan tidur!

Sial, mengapa saya merasa ingin tidur? Suara televisinya sangat…

 

Tiba-tiba saya menyadarinya. Saya tidak yakin sepenuhnya, tetapi sepertinya televisi itu yang membuat saya mulai mengantuk! Siapapun itu, sepertinya ia sedang mencoba membuat saya tertidur. Atau apapun. Jadi saya berusaha menjauh dari televisi itu. Tetapi saya bahkan sekarang mulai berdiri tidak tegap.

Saya betul-betul ingin tidur sekali.

 

Saya akhirnya melepaskan baju, mengepalkan tangan dengan baju dan menghantam layar televisi itu hingga pecah. Suara pecahan dan percikan apinya muncul seiring kepalan saya menembus televisi itu.

Entah karena efek pecah atau televisinya yang akhirnya mati. Saya kembali normal.

 

Tetapi kejadian itu hanya sesaat saja. Karena tiba-tiba dari luar muncul dua orang dengan pakaian tebal menerobos masuk. Pakaiannya tebal, mirip seperti baju astronot atau pakaian yang memubutuhkan kondisi steril total. Walau saya bisa melihat pakaian yang mereka tebal, tetapi ternyata mereka cukup gesit. Mereka berlari ke arah saya dan dengan cepat mencengkeram tangan saya. Saya tidak bisa bergerak.

Dengan nada protes saya bertanya mereka siapa, dan apa yang mereka lakukan. Tetapi mereka sama sekali tidak menggrubisku. Saya mencoba berontak tetapi gagal.

Entah mengapa melihat postur tubuh mereka, mereka… tidak mirip manusia. Tubuh mereka terlalu lebar untuk ukuran manusia pada rata-rata. Tetapi karena tertutup pakaian astronot, saya juga tidak terlalu yakin.

Apakah mereka marah karena saya merusak barang properti mereka? Atau mereka terpaksa menangkap saya karena gagal membuat saya tertidur? Entahlah, ada satu orang yang membawa masuk ranjang pasien. Saya dipaksa untuk berbaring di atas ranjang. Kemudian mereka mengikatkan saya ke ranjang tersebut.

Ketika berdiri di samping saya, dia diam saja. Dia memilah-milah rak meja yang di samping kasur saya. Saya yakin apa yang dia ingin lakukan. Dia akan membedah saya!

Saya meronta sekuat tenaga, tetapi tidak bisa. Ikatannya terlalu kuat. Mereka menyalakan lampu terang diarahkan ke wajah saya. Saya terpaksa menutup mata. Saya mencoba menendang. Saya mencoba menghentak. Tidak bisa. Saya merasakan logam dingin di dahi saya.

Tidak… Jangan…

Logam itu ditekan. Saya merasakan sepertinya masuk ke kepala saya!

 

Tetapi anehnya, saya tidak merasa sakit. Apakah saya sudah bius tadi? Tidak.

Saya tidak bisa membuka mata, karena terlalu lampunya yang terlalu silau.

Saya menutup mata. Entah berapa lama. Saya tidak ingat.

 

Saya perlahan-lahan membuka mata saya. Saya sudah tidak berada di ruangan misterius tadi lagi. Saya… saya berada di rumah sakit? Seorang perawat yang sedang bertugas melihat saya siuman, dia langsung keluar. Dan tidak lama dokter masuk ke dalam, menyalakan senter kecil ke mata saya.

“Kamu sadar kamu sedang di mana?” tanya si dokter.

“Rumah sakit?” jawab saya ragu-ragu.

“Apakah kamu ingat kejadian terakhir sebelum jatuh pingsan?”

Saya terdiam sebentar. Kemudian buru-buru saya menyentuh dahi saya.

Terasa ada sebuah sayatan kecil.

“Kamu ingat dapat luka ini dari mana?” tanya sang dokter setelah melihat tingkah laku saya.

“Sa.. Saya disekap. Setelah itu dioperasi oleh orang….”

“Tidak, kamu mengalami kecelakaan mobil. Untungnya tidak terjadi hal yang terlalu parah. Hasil CT Scan juga tidak mengindikasi ada kerusakan. Beberapa orang memang mengalami gangguan ingatan. Tetapi setelah beberapa hari akan berangsur-angsur baik. Kita akan pantau terus kondisi Anda. Jadi kamu harus rawat inap beberapa hari lagi.”

Tidak… Itu tidak benar… Saya mengunjungi Palung Mariana untuk penelitian. Kemudian tiba-tiba kapal selam saya diserang dan saya disekap ke ruangan, kemudian dioperasi oleh orang asing. Bagaimana mungkin dia bilang saya kecelakaan?

Ada apa ini?

 

Sorenya, seorang perempuan masuk ke dalam kamar saya. Ternyata Mira, pacar saya.

“Gimana kabarnya, say” tanya dia langsung.

“Ya, sudah baikan…”

“Bagaimana kejadiannya, kok bisa sampai tabrakan?”

“Tidak! Tidak ingatkah kamu? Seminggu yang lalu saya cerita ke Guam untuk penelitian Palung Mariana?”

“Guam? Mariana? Bicara apa kamu? Selama seminggu ini kamu tetap di kota sini saja kan? Kita saja setiap malam makan bersama. Kamu lupa?”

Ah.. ha ha ?

Ada apa dengan semua orang di sini?

“Sepertinya hantaman ke kepala cukup keras yah, ” Mira terlihat khawatir. “Coba ingat baik-baik. Kamu ini bekerja sebagai konsultan. Untuk apa kamu ke Palung Mariana untuk melakukan penelitian? Itu sama sekali tidak logis bukan?”

Saya mulai ragu dengan ingatan saya sendiri. Dipikir-pikir memang sedikit tidak masuk akal. Bagaimana mungkin saya merencanakan menyelami Palung Mariana. Untuk ke laut terdalam pasti butuh kapal selam. Dan kalaupun benar saya ke dasar laut tersebut, bagaimana mungkin saya disekap orang misterius dan sampai dibedah.

Saya rasa saya mungkin halusinasi saja. Mungkin kecelakaan mobil telah membuat ingatan saya kacau. Saya mulai menerima kenyataan tersebut.

“Brian… Apakah kamu tahu Brian sekarang di mana?” tanya saya.

“Siapa itu?”

“Oh.. bukan siapa-siapa,” jawab saya.

“Kamu istirahat saja dulu yah say. Besok saya akan datang jenguk lagi…”

“Ok…”

 

Malam hari saya tertidur, mencoba memikirkan kembali ingatan saya. Aneh tetapi saya ingat saya bekerja di perusahaan konsultasi asing. Ingatan mengenai peristiwa di Palung Mariana, juga semakin lama semakin menghilang.

Saya rasa mungkin ingatan saya sudah mulai normal kembali? Seperti yang dibilang dokter?

 

Tetapi hati kecil saya tidak tenang. Saya merasa ada yang salah. Ada yang sangat-sangat salah… Tetapi saya tidak berani memikirkannya lebih jauh. Sebetulnya, petualangan ke Mariana hanyalah ilusi? Atau sebenarnya keadaan saya sekarang yang merupakan ilusi?

(Bersambung)