Saya punya seorang paman yang sudah agak tuli. Beliau dulunya seorang nelayan, namun tahun lalu menjual kapalnya kemudian pensiun menikmati hari tua. Dulu waktu kecil saya sering mendengar ceritanya, pada saat beliau melaut di daerah kampung halamannya, sering ditemukan mayat mengambang di laut. Biasanya para nelayan yang berbaik hati akan membawa mayat itu ke darat, kemudian masing-masing dari mereka menyumbang sedikit uang untuk melakukan pemakaman yang layak walaupun sederhana untuk jenazah malang tersebut. Kemudian mereka akan memakamkannya di sebuah komplek perkuburan di pinggaran kampung mereka dengan nisan tanpa nama. (Tentunya, kalau hari ini sudah harus melaporkannya ke pihak berwajib)

Paman saya, akhirnya pindah ke pulau lain, kalau tidak salah Pulau Dompak. Di sini lebih jarang ditemukan mayat di laut. Kalau kata paman ini bukan faktor keamanan di Dompak lebih baik, tetapi lebih dikarenakan faktor arus laut yang kuat (jadi kemungkinan besarnya, kalaupun ada mayat pasti sudah terbawa jauh). Seperti itulah dia bekerja sebagai ABK untuk salah satu kapal besar di sana.

penampakan-hantu-air

Mayat yang terdampar di laut, umumnya merupakan korban pembunuhan. Entah dibunuh di laut, ataupun dibunuh kemudian dilempar ke laut….

 

Pernah di satu kali, waktu itu sudah Maghrib, saat kapal sedang dalam perjalanan pulang, para ABK melihat sesuatu berwarna cerah mengapung di depan kapal. Anak muda yang belum berpengalaman, mengira itu hanyalah sampah biasa. Tetapi paman saya yang sudah melaut puluhan tahun langsung tahu ada yang tidak beres. Dan memang benar ketika kapal mendekat, yang terapung itu adalah mayat. Mayat dengan rambut hitam terurai. Pakaian yang membalut tubuhnya adalah gaun berwarna merah. Ternyata mayat perempuan.

Mayat itu dalam kondisi menghadap ke bawah (Saya selalu penasaran mengapa mayat yang meninggal selalu menghadap ke bawah?) Tubuhnya sudah sangat membengkak, kaki tangannya sudah berubah bentuk, beberapa bagian tubuh terlihat daging terkelupas dan kelihatan tulangnya. Rata-rata para ABK berpendapat lebih baik biarkan mayat itu saja. “Cukup telepon ke polisi laut dan biarkan mereka yang membereskannya. Lebih baik kita langsung pulang saja,” gagas mereka.

Paman saya yang kebetulan di kampung halaman sering menemukan mayat dan bantu mengurusnya, akhirnya pun bercerita panjang lebar buat meyakinkan semua ABK supaya mau membawa mayat ini pulang. Eh ternyata semuanya akhirnya setuju untuk membawanya pulang. Jadinya, kapten pun memerintahkan untuk angkat mayatnya naik.

Perlu tahu mengangkat mayat itu tidak gampang. Orang yang pernah mengurus mayat yang sudah membengkak di air pasti paham betapa busuknya bau yang dikeluarkan. Tidak ada yang bisa menandinginya. Dan bahkan pada saat mengangkutnya, kadang karena tidak sengaja mengerek terlalu kuat, bagian tubuhnya akan langsung copot. Bau cairan tubuh ini kalau sampa kena badan, dicuci tiga hari pun tidak akan hilang…

 

kapal-nelayan-di-laut

Kapal nelayan yang melaut. Ukuran kurang lebih seperti ini namun lebih besar sedikit…

Dan yang lebih susahnya lagi, ada satu kepercayaan nelayan di sana bahwa tidak boleh langsung membalikkan mayatnya menghadap kita. Konon, orang yang pertama dilihat mayat itu, maka orang itu akan diikuti olehnya~

Saat itu paman saya dan satu abang yang sudah paruh baya, yang bertugas mengangkat mayat dan membawanya ke belakang kapal. Sebetulnya abang itu tidak setuju mengangkut mayat tersebut. Dia ikut membantu juga bukan karena faktor keberanian. Tetapi lebih dikarenakan dia termasuk yang sepuh di dalam kapal ini. Jadi dianggap dia paling berpengalaman (selain kapten, tentunya). Jadi kelihatannya, memang hanya paman saya dan abang itu yang bisa menangani pengangkutan mayat.

Proses pengangkutannya berjalan cukup lancar. Tetapi kemudian di pertengahan terjadi hal ynag tidak masuk akal. Paman saya mendengar suara tertawa perempuan!

Paman saya langsung terhenyak. Di kapal yang melaut di tengah laut, kapal yang penuh dengan laki-laki, darimana datangnya suara wanita?

Paman melihat abang itu dan bertanya untuk memastikan apakah dia juga mendengarnya. Rona wajah abang jelas terlihat dia agak syok. Namun abang itu terlihat berusaha memaksakan diri kelihatan berani, dan keukeuh bilang tidak mendengar suara perempuan tertawa. Paman saya merasa tidak beres, tetapi karena si abang bersikeras, akhirnya Paman tidak lanjut bertanya lagi.

Paman saya dan abang itu diam menarik menarik jala naik. Tidak berapa lama, mayat tersebut pun sudah diangkut. Mereka pun melanjutkan perjalanan pulang. Saat itu langit sudah mulai gelap. Dari arah depan terlihat kapal nelayan lain yang bersiap-siap melaut untuk menangkap ikan di malam hari. Dari kejauhan juga sudah terlihat lampu-lampu rumah berkelap-kelip. Beberapa saat kemudian, kapal mereka pun merapat ke dermaga. Polisi yang sebelumnya sudah diberitahu, ternyata telah bersiaga di dermaga. Begitu polisi masuk dan mulai menangani mayat, akhirnya para ABK bisa menghela napas lega.

Biarpun kampung situ tidak sering ada penemuan mayat di laut, tetap para nelayan sesepuh di sana sedikit banyak juga mengerti apa yang harus dilakukan. Mereka saat itu juga masuk ke kapal dan melakukan ritual kecil. Untuk pembersihan dan tolak bala, kata mereka. Saya kurang tahu apa yang mereka lakukan soalnya paman saya tidak terlalu menceritakan detailnya.

Seharusnya begitu kapal tiba di darat, cerita bisa berakhir. Tetapi cerita ini tidak sesederhana itu.

Saat menjalankan ibadah, masing-masing berdoa sebentar. Di sini ada kejadian tidak normal. Si abang paruh baya ini tidak tenang. Dia terus melihat ke sana kemari. Entah apa yang dicarinya. Paman saya merasa heran, tetapi tidak mengucapkannya. Akhirnya sebagian besar pulang ke rumah masing-masing. Sisa beberapa yang mengurus kapal itu.

Kejadian menarik terjadi dua bulan kemudian.

Saat hasil tangkapan orang lain sedang sepi-sepinya, kapal tempat paman bekerja malah mendapat hasil tangkapan yang melimpah! (Yang sedikit banyak membantu keuangan dia). Waktu itu dia bareng teman akrabnya mencoba menjual sendiri ke pasar di pulau sebelah. Waktu itu orang-orang merasa kalau jual di pasar situ, tidak akan untung banyak karena harga di sana terlalu murah. Tetapi siapa sangka gara-gara kejadian entah apa, ikan jadi langka di pulau itu, otomatis harga ikan meroket. Dari situ paman kembali mendapatkan uang yang lebih banyak lagi! Itu sebabnya, pada saat umurnya tidak terlalu tua-tua amat dia sudah bisa menjual kapalnya dan menikmati hidup. Lalu, bagaimana dengan abang paruh baya itu?

Tidak lama setelah kejadian penemuan mayat itu, si abang terkena kanker hati. Kata paman, dia akhirnya meninggal setengah tahun kemudian. Kepergiannya sungguh mendadak. Dari sini tiba-tiba paman berkata, kita, sebagai orang yang masih hidup harus menghormati orang yang sudah tiada…

 

Pada saat si Paman melayatnya, sanak keluarganya walau dalam suasana duka, bertanya apakah paman saya saat menarik mayat naik ada mengalami kejadian mistis atau tidak normal. Paman saya tentu saja kaget dengan pertanyaan seperti itu..

Keluarganya pun mulai cerita, semenjak pulang ke rumah malam itu, si abang paruh baya ini menjadi tidak enak badan. Karena tidak enak badan akhirnya dia tidak melaut lagi. Namun tidak sampai situ saja, dia mulai bermabuk-mabukan. Setiap hari selalu minum berbotol-botol bir. Sampai suatu hari, akhirnya dia tumbang juga.

Ketika dirawat di rumah sakit, orang keluarga pun bertanya mengapa dia menjadi begitu. Setelah didesak akhirnya dia menjawab. Jawabannya sungguh aneh. Dia sudah menyinggung hantu air!

Dia pun mengaku, di kejadian waktu itu, sebetulnya dari kejauhan dia sudah tahu kalau yang mengapung itu adalah mayat. Dia mengumpat dan memaki dalam hati, berharap kapal tidak mendekat mayat itu, dan jalan melewatinya saja. Tetapi siapa sangka, paman saya berhasil meyakinkan semua ABK untuk membawa mayat ini pulang. Saat dia menolong mengangkat pun, si abang ini terus mengumpat dalam hati.

Si Abang ini dengan menyesal berkata dia sebetulnya saat itu sedang ketakutan, dan berharap hantu itu mau memaafkannya. Sungguh tidak ada niat untuk menghina hantu tersebut.

Paman saya setelah mendengar cerita itu akhirnya dia mulai paham. Ternyata semenjak turun dari kapal itu, abang itu sudah “diikuti”. Abang itu semenjak turun ternyata merasa seperti ada orang di sampingnya. Seperti ada sesosok bayangan berambut panjang dan berpakaian merah. Setiap kali menoleh atau menghadap ke samping, bayangan itu menghilang. Tetapi beberapa saat kemudian ada di sisi sebelah yang yang satu lagi. Begitu terus. Itu sebabnya pada saat ritual, dia terus melengak-lengok tidak diam.

Tidak berhenti sampai situ. Ketika di rumah, tidur pun dia merasa ada bayangan di sebelahnya. Ketika makan dia selalu merasa di sebelahnya ada bayangan yang melihatnya terus menerus. Itu sebabnya dia akhirnya mulai minum alkohol dengan harapan dia tidak sadarkan diri dan tidak melihat bayangan itu.

botol-bir-tergeletak

Akhirnya dia memilih alkohol sebagai pelarian. Tetapi bisakah dia melarikan diri?

 

Bahkan yang lebih seramnya lagi, ketika dia sedang di rumah sakit saat itu, bayangan berbaju merah itu tidak hilang. Ia terus menerus berdiri di sebelahnya. Walaupun tidak terlihat jelas, dia tahu bayangan berambut panjang itu menatapnya. Mendengar cerita sampai situ, paman saya sangat terkejut.

Itu sebabnya paman saya menasehati. Janganlah sembarangan komentar pada orang yang tiada, bahkan di dalam hati sekalipun (apalagi menghina atau mengumpat). Kita sebagai manusia yang hidup di dunia, cepat lambat juga akan menjadi jenazah. Jadi untuk apa berlaku tidak hormat dan malah memberikan komentar usil kepada jenazah orang yang sudah meninggal?

Jika kalian penasaran dengan kisah hantu di laut, saya bisa merekomendasi cerita mengenai satu keluarga diselamatkan dari maut oleh kapal hantu.