Setelah terbangun, kepala saya masih terasa sakit. Saya ingin menutup mata saya lagi. Entah perasaan atau bukan, sepertinya ada kekuatan tidak terlihat yang memaksa saya untuk kembali ke mimpi lagi. Saya mencoba menahan keinginan untuk tidur itu…

Bagi kalian yang belum tahu apa maksud dari ini, silahkan cek kembali cerita saya sebelumnya di bagian sini.

Lanjut ke cerita, walaupun saya berusaha menahan keinginan untuk tidur, tetapi ternyata percuma. Setelah bertahan beberapa saat, saya akhirnya kembali tertidur. Begitu tertidur, perempuan itu kembali muncul lagi di mimpi. Dan seperti begitulah begitu saya terbangun dia menghilang kembali!

Setelah terulang 2,3 kali, posisi perempuan itu sudah semakin mendekati pintu masuk. Cara dia melompat ke depan sangat tidak alami. Maksud saya tidak alami, cara tubuhnya meliuk dan menekuk itu betul-betul aneh. Seolah-olah pahanya itu tidak ada tulangnya. Atau mungkin tulang kakinya terdiri dari banyak sekali persendian sehingga dia bisa memiliki sebanyak lekukan itu.

Melihat pemandangan itu saja sudah membuat jantung saya sepertinya akan berhenti berdetak. Apalagi sekarang dia semakin lama semakin mendekat….

Saat ini, tidak peduli sekuat apapun saya mencoba berteriak ataupun menggerakkan tubuh saya, namun sayangnya tidak terjadi apa-apa. Sekarang dia sudah berada tepat di depan saya. Saya hanya bisa dengan pasrah melihat sosok itu berada di depan mata saya. Karena saya terbaring di sofa, dan dia berdiri, saya tidak bisa melihat wajahnya. Saya tidak tahu dia sedang melihat apa. Mungkin sedang tersenyum menyeringai menatap saya?

Saya berusaha untuk tidak menatap wajahnya. Saya takut jika sampai melihat wajahnya, saya akan habis.

Sosok itu mulai perlahan-lahan berjongkok. Gerakan dia berjongkok lebih aneh. Dua kakinya ditarik lurus ke belakang baru kemudian dibengkokkan. Kemudian badannya pelan-pelan mengarah ke depan seolah-olah kehilangan keseimbangan. Kedua tangannya pun kelihatan seolah-olah sedang menggantung. Dengan posisi seperti itulah perlahan-lahan saya pun melihat wajahnya…

Dengan wajah yang sangat dekat saya dua mata kami saling menatap. Matanya tersirat rasa sedih yang mendalam. Alisnya terlihat berkerut begitu dalam. Saya tidak bisa membedakan alis mata dan bulu matanya. Keduanya tidak ada perbedaan yang begitu jelas. Dan yang membuat saya begitu ketakutan adalah mulutnya. Pada awalnya mulutnya tertutup rapat. Tetapi tiba-tiba dia membuat lengkungan seolah-olah dia sedang tersenyum pahit. Kemudian dia bergerak lebih lebar, semakin jelas bahwa dia sedang menyeringai.

Ketika memperhatikan mulutnya, saya tidak menyadari bahwa tangannya perlahan-lahan ingin menggenggam pundak saya!!

Akhirnya entah saya pingsan atau dibangunkan oleh teman, semuanya berakhir.

Teman saya waktu itu mengatakan wajah saya sangat pucat, dan bertanya apa saya jatuh sakit. Begitu terbangun saya langsung beranjak. Melihat jam tangan, ternyata sudah jam 1 lewat dini hari. Akhirnya tanpa banyak basa-basi saya pergi ke kamar asrama salah satu teman untuk numpang tidur.