Tanggal 26 Desember 2018, saya dan rekan-rekan guru juga pengurus yayasan mengadakan Family Gathering ke Jogja, Borobudur, Prambanan dan Wisata Volcano Merapi.

Di candi Borobodur, saya sangat menikmati pemandangan di sana. Hati terasa tentram. Di Prambanan, saat memasuki candi yang berisi patung wanita besar, saya melihat ada bunga seperti bekas sesaji, masih segar.

Tapi tiba-tiba tubuh saya seperti ada yang mendorong dengan keras agar saya keluar dari area tersebut. Saya tetap bertahan untuk tidak keluar, tapi entah kenapa saya menjadi sesak dan tak bisa bernafas. Leher seperti tercekik.

Dalam hati saya bicara,”Ok. Maaf saya akan keluar”.

Saya keluar area candi itu dengan terhuyung-huyung karena kepala ini terasa pening dan berat. Tanggal 27 Desember, saya dan seluruh rekan guru menuju wisata Volcano Merapi. Sebenarnya saat tiba di desa kali Adem, dan saat itu sudah zuhur.

Kami melaksanakan sholat berjamaah di mushola. Entah kenapa setelah sholat ada rasa enggan untuk meneruskan perjalanan yang menggunakan mobil jeep. Ada rasa ragu, tapi karena dipaksa untuk ikut, saya pun dengan berat hati ikut. Dari radius beberapa meter perjalanan, saya masih bisa menikmati pemandangan perkampungan. Tapi saat agak jauh kedalam, ada rasa sedih yang tidak bisa saya tahan. Saat itu saya duduk di sebelah driver.

Entah kenapa rasa sedih ini makin membucah dan membuat saya menangis. Dalam penglihatan saya, saya melihat dan mendengar suara-suara berderak seperti rumah yang roboh. Suara-suara panik orang berlarian, suara hewan ternak yang kesakitan. Banyak debu berterbangan, panas dan pekat. Selama jeep berjalan selama itu juga saya terus menangis karena tidak kuat melihat situasi yang terjadi kala itu.

Tak terasa rombongan kami sudah sampai di Rumah juru kunci merapi Mbah Marijan. Kembali ada rasa sungkan untuk memasuki area rumah si mbah. Tapi karena dipaksa kembali, dengan gontai saya memasuki kawasan rumah si mbah…

Saat itu situasi ramai wisatawan, dan tiba-tiba saya melihat ada orang tua berkaca mata dengan mwnggunakan baju beskap dan bawahan jarit tersenyum ke arah saya. Entah kenapa di kala para wisatawan menikmati dengan berfoto-foto dan menunjukan raut senang, saya kembali menangis. Saya tidak bisa menahan air mata ketika si mbah bercerita tentang alasan dia, kenapa tidak menyelamatkan diri saat Merapi erupsi.

Si mbah bilang, apapun yang terjadi,saya tidak akan meninggalkan tempat. Saya lahir di sini dan akan mati di sini. Sudah tanggung jawab saya kata si mbah untuk menjaga Merapi, biar yang lain menyelamatkan diri, dan apa kata orang nanti bila saya lari menyelamatkan diri. Banyak juga yang bertahan di sini le, karena ini tanah kelahiran mereka.

Kalau saya lari dan menyelamatkan diri, saya malu untuk menghadap Sri Sultan, le. Sudah takdir Mbah begini. Mbah ikhlas. Makin kencanglah tangisan saya setelah mendengar penjelasan dari si mbah. Beliau benar-benar sangat amanah dan tidak mementingkan kepentingan pribadi. Rombongan yang lain masih menikmati wisata itu, saya dengan memohon dan tangis yang belum berhenti, meminta driver jeep untuk mengantar saya kembali ke base camp jeep, karena saya sudah tidak kuat dan tidak tahan lagi melihat semua kenyataan yang terjadi saat erupsi dan abu vulkanik yang mereka sebut wedus gembel menyerang pemukiman.

Untuk Mbah Mijan, terima kasih sudah mau bercerita. Semoga Allah membalas dengan pahala dan surga akan kebaikan yang sudah mbah lakukan…Amiin.

(saya menulis ini,dengan air mata yang menetes karena teringat dengan kacaunya dan paniknya juga penuturan si mbah yang membuat saya terharu)

Penulis: Runan Handoyo