Saya, Ismail, Pak Andre berada di dalam mobil sambil melihat kiri kanan. Kami sedang menelusuri jalan yang biasa dilewati saya saat pulang dari sekolah. Pak Lukman sengaja membawa mobil pelan-pelan agar memungkinkan kami semua mengecek orang-orang di jalanan lebih teliti.

Daniel sendiri langsung pulang ke rumah, menghubungi orangtuanya setelah mendengar penjelasan dari Pak Andre. Saya tidak tahu apakah dia akan menceritakan tentang kasus siswi hilang ke mereka.

Kita sudah melewati tiga putaran di jalan biasa kami pulang, tetapi memang tidak ada jejak Doris di situ. Saya sampai cukup hafal wajah-wajah pedagang kaki lima di jalanan sana. Dan memang tidak terlihat ada siswi berseragam SMA di jalanan dari tadi.

“Apa mungkin Doris sebetulnya hanya pergi ke mall?” tanya Ismail mencoba menenangkan semuanya.

Sejujurnya, dalam hati saya juga berharap dia hanya mampir di mall. Atau mungkin di rumah teman. Terus handphonenya lowbat, makanya tidak bisa dihubungi. Mungkin sorean dia akan kembali ke rumahnya lagi… Tetapi gara-gara penjelasan Pak Andre tadi. Lalu foto yang ditemukan di toilet belakang sekolah lagi. Semua itu membuyarkan harapan saya.

“Ini sepertinya tidak akan ada kemajuan. Saya sarankan Pak Lukman cari lewat mobil. Kita pencar di sini dan cari saja,” saran Pak Andre.

Saya dan Ismail setuju. Kami bertiga turun dari mobil dan berpencar. Saya menduga-duga tempat yang mungkin dia pergi. Saya berlari ke arah mal kecil yang ada di daerah situ. Sambil mencari, saya inisiatif telepon satu per satu teman Doris. Mungkin salah satunya sedang bersama dengannya.

“Hi Irma, apakah Doris bareng kamu sekarang? Tidak? Apa kamu tahu dia bareng siapa sekarang? Atau sempat lihat dia siang tadi? Enggak yah.. Oh.. Ok. Anu itu… Doris hilang. Uhh.. Tidak-tidak-tidak, kami belum tahu dia di mana. Jadi, nanti kalau ada dengar kabar Doris di mana, kabarin yah. Makasih…”

Begitu seterusnya saya hubungi satu per satu. Saya tahu, telepon seperti ini akan membuat situasi makin heboh. Tetapi mau tidak mau. Semakin banyak yang mencari, akan semakin baik.

Saya melihat toko baju. Menelusuri setiap sudut di department store pakaian. Dari lantai yang menjual pakaian pria, pakaian wanita, pakaian anak, tidak satupun saya lewatkan. Saya terlihat seperti orang linglung mencari jalan pulang. Saya putar sana sini. Saya bahkan melewati area jual pakaian dalam wanita. Nanti kalau sudah ketemu Doris, saya mungkin akan cerita kejadian konyol ini semuanya.

 

Saya keliling foodcourt di mall. Di situ saya menemukan Ismail juga sedang sibuk mencari. Saya langsung menghampirinya.

“Jef, apa ada perkembangan?” tanyanya begitu dia melihat saya.

Saya hanya menggeleng kepala. Kerongkonganku kering sekali. Ingin rasanya membeli minuman setelah menelepon belasan teman Doris. Tetapi hati saya merasa ini bukan saat yang tepat beli minuman. Doris harus ditemukan dulu. Baru cari yang lain.

“Apa kamu sempat mencoba menghubungi Felix?” tanya Ismail tiba-tiba.

Saya terkejut. Mungkin karena saya tidak terpikir mencoba menghubunginya. Lagipula, saya tidak memiliki nomor handphone-nya. Yang punya seharusnya Daniel dan Ismail. “Tidak, saya tidak hubungi dia… Kamu tadi mencoba menghubunginya?”

“Sejujurnya belum. Saya khawatir, jika saya hubungi dia, dia akan curiga kita mencari Doris… dan dia…” jawab Ismail.

“Tidak! Tidak! Saya rasa bisa coba telepon dia. Kamu hubungi dia. Kita pura-pura tidak tahu soal Doris saja. Kamu cari cara agar tahu dia di mana! Cepat!” jawab saya cepat.

Iya, kenapa tidak terpikir oleh saya! Kami tidak tahu Doris ke mana. Tetapi setidaknya jika kami bisa melacak posisi Felix di mana. Mungkin saja Doris ada di situ bukan?

“Lo bilang lo cari dia buat bahas soal foto, yang disebut Kepsek. Kita kan bertiga dipanggil Pak Lukman tadi. Kalau kita singgung foto, mungkin dia akan tertarik,” saya menjelaskan rencana saya kepada Ismail yang sibuk menekan tuts di layar ponselnya.

Dia menunggu. Menunggu. Dan Menunggu. Beberapa saat kemudian dia menatap layarnya lalu menekan ulang tutsnya. Dan menunggu lagi.

“Ada apa? Dia tidak mengangkatnya?”

Ismail hanya menggeleng kepala. Dia tetap menempelkan handphone ke telinga sambil melihat kejauhan. Mencari Doris yang mungkin sedang duduk di salah satu meja foodcourt. Jam-jam sore segini foodcourt sedang sepi-sepinya. Jadi sejujurnya kami sudah tahu tidak ada Doris di situ. Tetapi kami masih mencoba memindai seisi area. Siapa tahu dia keluar dari toilet?

Tidak ada tanda-tanda ada orang yang mengangkat telepon Ismail.

Saya mulai putus asa. Apa mungkin Felix sengaja menutup handphone-nya? Agar kami tidak mengetahui posisi dia? Mungkin dia sedang sibuk membe-

Tiba-tiba Ismail berbicara, “Halo, Felix?”

Saya langsung tegang menatap Ismail. Dia menekan tombol loudspeaker agar saya bisa mendengarnya. Kami langsung duduk di salah satu kursi foodcourt yang paling dekat kami.

“Umm anu. Gini Felix, kamu lagi di mana yah? Saya pengen ketemu kamu cerita sesuatu.”

“Eh? Gimana kalau besok saja? Soalnya saya bentar lagi harus les matematika,” jawab Felix. Saya merasa dia mencoba hati-hati menjawab.

“Oh, sebentar aja kok. Soalnya saya ada hal yang penasaran banget,” lanjut Ismail.

“Hm, paling ceritain saja di sini aja?” usul Felix.

“Ah… Anu itu susah ngomong lewat HP. Udahlah. Kamu les di mana sih. Saya samperin lo di situ saja.” tukas Ismail.

“….” Felix diam di sana tanpa menjawab.

“Felix? Gimana?” tanya Ismail lagi.

“…. Baiklah. Kita ketemu di Jln. Medan. Kamu tahu tempat les matematika di dekat toko kelontong kan? Kita ketemu di sana aja yah. Saya sekarang ke situ.”

“Ok, sip! Sampai jumpa Felix,” ujar Ismail riang.

“Ok.” Dan sambungan pun terputus.

 

“Berhasil. Kita berhasil menghubungi Felix. Saya rasa saatnya kita ke sana yah Jef.”

“Iya. Saya rasa begitu.” Perasaan saya antara tegang, takut, gugup semua bercampur jadi satu. Otak saya kembali berputar keras. Apakah Felix akan curiga jika tiba-tiba kami telepon ke dia? Jika dia pergi ke tempat kursus matematika, berarti kita tidak akan pernah mengetahui dia tadi berada di mana selama siang ini bukan? Tetapi setidaknya jika sudah menemukan dia, kita bisa memaksa dia berbicara. Bahkan jika harus dengan cara kekerasan.

Kami berdua bermaksud ingin menghubungi Pak Lukman dan Pak Andre. Tetapi sialnya kami tidak memiliki nomor handphone mereka. Mungkin semuanya terlalu panik, jadi tidak terpikir untuk bertukar nomor handphone. Kami hanya disuruh kumpul kembali di titik pencar tadi nanti jam 3.

Akhirnya diputuskan Ismail akan kembali ke titik kumpul menunggui Pak Andre dan Pak Lukman. Sedangkan saya akan hubungi Daniel untuk mengajak dia bareng saya menemui Felix. Saya jelaskan ke Daniel strategi kita untuk cari Doris via Felix. Setidaknya ini pasti akan membawa kemajuan. Daniel sangat setuju. Dia menjadi semangat kembali. Kami pun berjanji bertemu di satu titik sebelum sama-sama menemui Felix di tempat les matematika.

 

Saya bertemu Daniel di depan toko apotik yang tidak jauh dari lembaga kursus. Daniel cerita bahwa dia sudah melapor ke orang tuanya tentang Doris yang tidak bisa dihubungi. Tetapi mereka tidak begitu percaya Doris hilang. Doris memang kadang-kadang pergi ke rumah teman atau mall sehabis dari sekolah dan pulangnya sore-sore. Jadi mereka sekedar broadcast message ke seluruh teman dan saudara kalau melihat Doris untuk dikabari.

Kami berdua langsung jalan menuju kursus. Dari kejauhan sudah terlihat Felix yang sedang berdiri di luar menunggu kami. Tanpa sepatah katapun Daniel langsung berlari ke sana. Saya agak terkejut Daniel tiba-tiba menjadi beringas.

“WOI! BANGSAT! KAU KEMANAKAN DORIS!!” teriak Daniel langsung menarik kerah Felix.

Felix terlihat sangat terkejut dan sekaligus bingung. Belum sempat dia menjawab Daniel sudah menghajar wajah Felix.

Saya tiba lebih telat. Saya lihat orang-orang kursus langsung menahan Daniel. Sial. Jika sampai Felix tahu mengapa kita cari dia dan kabur, semuanya akan kacau. Saya langsung mendekati Felix.

“Kamu gak apa-apa kan?”

Felix menoleh ke saya. Terlihat dia sedang ketakutan. “Eng…Enggak apa-apa… Ada apa dengan dia?”

Saya terdiam sejenak. Kenapa dia terlihat bingung? Mengapa dia seperti tidak tahu apa-apa. Saya menoleh ke Daniel yang masih memberontak, tetapi ditahan tiga orang. Ini tidak akan ke mana-mana jika si Daniel seperti ini. “Daniel! Tenangkan dirimu!”

Saya menoleh kembali ke Felix. “Anu, hari ini kamu terakhir bersama dengan Doris bukan?”

“He? Iya, saya tadi pulang bareng dia. Kebetulan dia turun duluan. Emang kenapa dengan Doris?”

Daniel akhirnya dilepaskan setelah dia agak tenang. Dengan marah tertahankan dia ajak saya dan Felix untuk ke tempat lain yang lebih agak sepi. Kami bertiga berjalan ke seberang dan masuk salah satu gang komplek ruko.

“Kamu lebih baik cerita sejujurnya atau saya hajar kamu Felix!” desis Daniel. Terlihat sekali dia masih sangat marah.

“Saya gak ngerti. Beneran. Tadi siang saya bareng Doris satu angkot. Tetapi dia turun duluan. Saya tidak tahu dia ke mana. Serius!”

“Dia turun di mana?” tanya saya.

“Dia turun di depan dekat mal yang di Jalan Sudirman itu. Kalian tahu kan mal itu. Mungkin dia ke situ? Beneran saya gak tahu dia ke mana…” jawab Felix seperti hampir menangis.

Itu mal yang tadi saya dan Ismail cari Doris. Saya mencoba menyelidik lebih jauh. “Ok.. Ok.. Apakah kamu melihat ada yang aneh. Apa dia ada cerita ke kamu? Sebelum dia turun dari angkot?”

Felix mencoba berpikir keras.

“Kamu sebaiknya menjawab jujur,” Daniel kembali mengepalkan tangannya.

“Anu… Dia kayaknya bilang dia mau bertemu dengan seseorang. Gak tahu di mana, mungkin di mall?”

“Siapa yang dia temui? Doris ada cerita?” tanya saya lagi.

“Erm… erm.. Sepertinya tidak ada” ujar Felix.

“Woi! Kamu lebih baik jawab jujur!” Daniel kembali menarik baju Felix. Saya buru-buru menahan Daniel.

“Bener.. bener… demi Tuhan….” ujar Felix ketakutan setengah mati.

“Kamu tadi siang ke mana saja? Jawab!”

“Tadi siang… tadi siang… saya beli buku di toko buku di jalan Sudirman. Itu sebabnya saya naik angkot sejurusan dengan Doris..”

Daniel menyeringai. “Kebetulan saya ada nomor telepon si pemilik toko itu, Felix. Lebih baik kau ngaku. Saya bisa tanya dengan pemiliknya…”

“Telepon saja. Saya tidak bohong…”

Saya tidak menyangka Daniel punya nomor telepon si pemilik toko buku itu. Kita memang sering beli buku di sana karena dekat rumah kami. Namun jika Felix benar beli buku di sana berarti dia punya alibi bahwa bukan dia yang menculik Doris kan?

Daniel selesai telepon, dan wajahnya terlihat tidak senang.

“Bagaimana?” saya bertanya ke dia.

“Benar Felix sempat ke situ,” jawab Daniel jengkel. Mungkin dia juga paham, ini berarti Felix bukan pelakunya.

Saya rasa kasihan kalau Felix difitnah seperti itu. Jadi saya pun meminta maaf, dan menceritakan kembali sekilas ke dia, “Kamu masih ingat tadi pagi kita cerita soal foto wanita yang dispidol hitam kan? Jadi tadi siang di kantor kepsek, kita dijelaskan kalau foto-foto yang dispidol hitam itu adalah korban-korban yang hilang. Dan tak disangka, foto Doris juga ditemukan oleh Pak Andre tadi. Itu sebabnya kami kalang kabut.”

“Oh.. Tapi saya tidak tahu menahu soal itu…” jawab Felix. Dia diam sejenak kemudian melanjutkannya, “Saya gak tahu ini saat yang tepat atau bukan. Mungkinkah Pak Andre pelakunya?” Tanya Felix tiba-tiba.

Daniel dan saya langsung menatapnya.

“Maksud saya, kamu masih ingat ‘kan? Malam minggu waktu itu. Ada hantu wanita yang mengikuti dia pada saat di toilet belakang. Jika Pak Andre bukan pelakunya, mengapa ada hantu wanita itu di situ saat dia muncul?”

Apa yang dia bilang cukup masuk akal..

“Dan lagi, kalian bilang Pak Andre yang menemukan foto Doris di toilet belakang. Jadi…”

“Jadi mungkin dia yang meletakkannya dan pura-pura menemukannya?” Saya mencoba memahami Felix. “Tetapi tidak mungkin. Soalnya kami bareng-bareng mencari Doris tadi. Dan…”

Jantung saya berhenti sesaat. Tadi kami disuruh berpencar oleh Pak Andre.

Pak Andre bisa saja melakukan apa saja saat kita berpencar! Saya langsung mengeluarkan handphone dan menelepon Ismail.

“Ismail! Apa kalian sudah berkumpul?”

“Eh.. Sudah, cuman tinggal Pak Andre sih. Entah dia ke mana. Pak Lukman lagi telepon dia..” sahut Ismail diseberang telepon.

 

(Bersambung)