Hari ini hujan deras di luar. Kami hanya duduk-duduk di dalam kelas. Guru belum masuk. Sudah seminggu Pak Andre tidak masuk. Tidak jelas apa penyebabnya dia tidak masuk-masuk semenjak kejadian di malam hari di toilet belakang.


Hanya saya, Felix, Ismail, Daniel dan Doris yang tahu. Doris diceritakan oleh saudara kembarnya. Si Doris juga sempat cerita mengenai foto seram yang dia lihat di ruangan kepala sekolah ke Daniel.

Walaupun saya rasa itu tidak ada hubungannya, si Daniel dan Ismail sudah mencoba menghubung-hubungkan keduanya.

“Jangan-jangan cewe yang kamu lihat itu hantu yang waktu itu kami lihat,” jelas Ismail.

Doris hanya mengangkat bahu. Dia tidak bersama kami waktu itu. Lagipula, biarpun dia bersama kami, dia pun tidak akan bisa melihatnya. Soalnya satu-satunya yang bisa melihat di malam itu hanya si Felix. Karena matanya memang kadang-kadang bisa melihat makhluk halus, katanya.

“Nah, itu sebabnya kami pikir akan coba minta Felix menyelinap ke ruang kepala sekolah buat lihat fotonya,” jelas Daniel.

Felix jelas-jelas terlihat tidak berminat dengan ide itu.

Saya pun juga bisa memahami rasa risihnya. Mereka gimana menyelinap ke ruang kepala sekolah? Ruang kepala sekolah ada di dalam ruangan tata usaha. Artinya dia harus bisa lolos dari pandangan para petugas tata usaha sebelum masuk ke ruangan situ.

“Sudahlah, foto itu saya rasa mungkin masalah gagal cetak, atau cuman kena spidol. Jangan buat anak orang dihukum gara-gara ide gak jelas kalian,” ujar saya mencoba membela Felix.

“Iya, kalian parah sekali. Kalau mau kalian berdua aja yang menyelinap dan ambil fotonya, hahaha” jawab Doris.

“Iya, kan itu kalian yang mau lihat. Harusnya kalian yang masuk, ambil fotonya tunjukkin ke Felix.”

“Gila aja. Ogah gua,” Ismail menjawab sambil geleng-geleng.

“Serem. Kepala sekolah ini denger-denger kalo marah, sangat mengerikan. Mending kita jangan provokasinya,” jawab Daniel.

“Duh kalian berdua aja gak mau. Enak sekali minta Felix pergi lihat,” cemooh saya.

“Yah kan kalo masuk lihat sekilas fotonya kan gampang. Bilang saja ada urusan mau ketemu bapak kepala sekolah. Tapi kalau kami masuk terus curi foto keluar, kalo sampe ketahuan, menurut lo kami bakal diapain.”

“Yah paling diskors…” jawab saya.

“Sudahlah kita undi saja. Siapa yang dapat dia pergi ambil,” ujar Daniel.

Tentu saja yang lain protes. Karena tidak ada yang tertarik untuk mengambil. Akhirnya, karena kehabisan ide Daniel langsung menggandeng Ismail dan saya.

“Ya sudah, kita bertiga saja yang ambil,” ujarnya.

What the… Kenapa harus saya? Saya baru saja ingin menyuarakan protes, Daniel sudah dengan sigap sengaja menyela.

“Gini, mumpung guru belum masuk. Kita coba ke ruang staf TU. Kalau memang ada orang ya sudah kita gak usah maksa. Ok?”

Setelah dipikir-pikir rasanya gak mungkin kantor TU kosong sih. Jadi ya sudah saya pun setuju untuk ikut saja. Kami bertiga pun berjalan menyusuri ruangan kelas. Soalnya hujan masih sangat deras.

Setelah sampai di ruang TU, Ismail yang mencoba mengecek ada orang atau tidak. Ternyata kosong, dia mengisyaratkan kita untuk masuk. Saya tidak mau masuk. Tapi Daniel mendorong saya masuk juga.

Kami bertiga pun mendekati ruang kepsek, ternyata tidak ada orang juga…

Tumben, pada kemana para staf dan kepsek?

Ismail inisiatif menjaga di luar. Melihat siapa yang mendekat langsung kasih aba-aba ke kami. Sedangkan saya dan Daniel masuk ke ruang kepsek. Saya pun mulai mencari-cari foto yang dimaksud Doris.

Ini gila, gumamku.

Kami sengaja menerobos masuk ruang kepsek untuk sesuatu yang gak jelas. Dan kalau sampai ketahuan bisa-bisa kita diskors. Dan untuk apa? Untuk sebuah foto!

Daniel sibuk mencari tetapi tidak menemukannya. Akhirnya dia membuka laci meja Kepsek.

“Ui! Kamu gila?” tanya saya berbisik.

“Ssh!” Daniel tetap membuka laci lalu mencoba mengubek-ubek isi laci kepala sekolah.

Saya menyerah. Saya keluar. Daniel mencoba protes, tetapi di waktu yang sama Ismail sudah memberi isyarat. “Awas, kepsek datang!”

Daniel langsung buru-buru menutup laci-lacinya. Dan muncul di ruang TU. Kami sebelumnya sudah sepakat agar jangan lari keluar kalau ada orang yang datang, soalnya bakal kelihatan mencurigakan sekali.

Jadi strateginya adalah sengaja tunggu di ruang TU, pura-pura tunggu staff atau tunggu kepsek (tergantung siapa yang datang) untuk bertanya sesuatu. Karena Pak Lukman, yang merupakan kepala sekolah yang datang, jadi kami akan karang alasan untuk mau tanya masalah uang sekolah…

“Lho? Kok kalian di sini?” tanya Pak Lukman saat berjalan masuk.

“Anu kami mau..” Ismail mencoba menjelaskan strategi tadi. Tetapi belum sempat dia selesaikan kalimatnya Pak Lukman kembali berkata, “Bukannya sekarang seharusnya kalian di kelas. Ini kan jam pelajaran!”

“Itu soalnya…” Daniel mencoba menjawab, tetapi sayangnya dia sendiri tidak tahu harus menggunakan alasan apa.

“Dan kamu. Jeffri. Kamu di sini sekarang di sini kenapa? Beberapa hari lalu baru diperingati jangan lari-lari, sekarang kenapa nih? Coba kamu yang jawab kenapa kalian tidak di kelas.”

“Err… Itu pak. Gurunya tidak masuk. Jadi kami pikir coba mau tanya hal itu. Tadinya mau tanya bapak langsung.” jawab saya cepat. Wajah Daniel dan Ismail tiba-tiba berubah. Wajah bloon mereka seolah-olah menemukan secercah harapan.

Pak Lukman agak ragu-ragu dengan alasan saya. Tetapi akhirnya dia pun lanjut bertanya, “Siapa guru kalian? Saya nanti coba cek.”

“Itu, Bu Sulis,” jawab Daniel mantap.

“Okay. Kalian kembali ke kelas dulu.”

“Baik Pak,” jawab kami serentak.

“Oh ya, nanti kalian jangan langsung pulang. Singgah dulu ke kantor saya. Ada yang mau saya bicarakan.”

Mati kami…

Kebetulan pelajaran terakhir sudah berakhir. Semua siswa bersiap-siap untuk beres-beres tas dan pulang. Saya, Ismail, Daniel agak lesu. Doris sudah tahu kalau kami harus menghadap Kepsek saat pulang. Jadi dia berpikir untuk menunggui kami. Soalnya dia biasanya pulang bareng.

Tetapi kami tidak yakin akan berapa lama. Takutnya kalau dihukum, kelamaan. Setelah dipikir-pikir Doris pun setuju dia pun pulang sendiri.

Di luar masih hujan. Doris mengeluarkan payung berwarna kuningnya dan berjalan menuju seberang untuk tunggu angkot. Sedangkan kami pun lanjut berjalan ke arah kantor kepala sekolah.

“Aman gak tuh, saudara kembar lo balik sendiri?” tanya Ismail.

“Tidak masalah. Dia kadang juga balik sendiri kok…” jawab Daniel. “Lagipula barusan di whatsapp, dia bilang ada Felix di situ juga, numpang payungnya.

“Kita akan diapain yah…” celutuk saya. Saya rasa bukan saatnya kita mengkhawatiri Doris. Karena nasib kami bertiga sendiri lebih terpuruk.

Kami berjalan pelan-pelan menuju ruang kantor kepala sekolah. Rasanya ingin dilama-lamain. Mungkin seram. Apalagi saya, yang sudah pernah diperingati sebelumnya.

Saat di ruang kepala sekolah, kembali ruangan itu kosong. Staf TU mungkin sudah pada pulang kali yah. Trus kepala sekolahnya ke mana?

“Wah apa kita cabut saja? Ntar pas ditanyain bilang saja gak ada orang jadi pulang dulu?” saran Ismail.

“Jangan, jangan bikin gara-gara lagi,” balas saya

Daniel sependapat dengan saya. Jadi kami memutuskan untuk menunggu beberapa saat. Sampai akhirnya Pak Lukman masuk. Diikuti Pak Andre. Kami agak terkejut mereka berdua masuk.

Pak Lukman dan Pak Andre juga agak terkejut melihat kami bertiga. TetapiĀ  Pak Lukman langsung duduk. Pak Andre berdiri di belakang kami. Kami bingung. Pak Andre melipatkan tangannya menatap kami.

“Mereka bertiga menyelinap masuk ruang TU. Saya tadinya bermaksud ingin menggali lebih dalam, sebetulnya mereka sedang apa tadi. Karena posisi barang di meja saya berubah…” urai Pak Lukman kepada Pak Andre, tanpa memperhatikan kami.

Mati kami… Pak Lukman tahu.

“Wah.. Kalian nakal juga yah.. Mau mencari apa di sini,” tanya Pak Andre.

“Tapi sudahlah, urusan kita lebih mendesak Pak Andre. Anak-anak kalian pulang dulu, besok baru kita bicarakan lagi.”

Kami hanya menjawab lemah dan berjalan keluar. Memikirkan malapetaka yang akan terjadi besok. Pak Andre bergegas menutup pintu saat kami bertiga sudah di luar.

Dari balik ruangan kami tetap mendengar dengan jelas.

“Kita lanjut lagi Pak Andre yang tadi. Tolong jelaskan foto yang matanya diwarnai hitam itu..”

Daniel dan saya langsung terdiam. Ismail sepertinya tidak mendengarkannya. Jadi dia bingung saat kami tiba-tiba berhenti melangkah? Sepertinya kami memang anak nakal. Kami sengaja menguping pembicaraan ini.

(Bersambung)