Aah… Hari ini hari Senin lagi. Seperti biasa pagi-pagi kami mengikuti upacara bendera. Tetapi saya tidak konsen sama sekali. Ingatan malam minggu kemarin masih sangat jelas. Bagaimana saat kami menyelinap sekolah malam hari dan memergoki Pak Andre di toilet belakang sekolah.

Itu saja sudah cukup misteri, tetapi yang lebih aneh lagi, si Felix yang bisa melihat makhluk halus, malah melihat hantu wanita ada di belakang Pak Andre saat itu. Padahal kita yang ada di sana duluan, dan hampir sejam ke sana kemari gak melihat apa-apa. Namun, begitu Pak Andre datang, hantu itu pun juga muncul.

Felix waktu itu bilang kalau hantunya “transparan, terlihat mengenakan gaun. Bentuk wajah tidak jelas selain dua lubang hitam yang seharusnya mata berada.” Kata Felix umumnya hantu yang dia lihat memang tidak terlihat jelas matanya. Dalam artian umumnya mereka selalu transparan. Tetapi hantu ini entah kenapa agak berbeda. Felix gak bisa memastikannya. Hantu itu pertama kali muncul, menurut Felix, pada saat Pak Andre berdiri di depan toilet.

Ismail dan Daniel rasa mungkin itu hantu penunggu toiletnya. Besar kemungkinan si hantu itu kenal Pak Andre. Mungkin kematiannya berkaitan dengan Pak Andre. Jadi mungkin karena itulah dia menampakkan diri di belakang Pak Andre.

Teori mereka menurut aku berlebihan, tetapi tidak dipungkiri ada benarnya. Mungkin Pak Andre, entah bagaimana, memang ada hubungan dengan hantu perempuan itu. Mungkin dia penyebab kematian perempuan tersebut? Tetapi aku rasa misteri itu akan tetap menjadi misteri. Soalnya, gak mungkin kami menanyakan ke Pak Andre secara langsung…

Saya baru sadar matahari kali ini lebih sangar daripada biasanya. Ah, sampai berapa lama lagi kita harus berdiri di bawah matahari. Saya mulai merasa pusing…

 

Seperti biasanya begitu upacara selesai, maka langsung masuk pelajaran Fisika. Tetapi alih-alih Pak Andre yang masuk, Pak Galih, guru fisika untuk kelas lain yang masuk. “Hari ini wali kelas kalian berhalangan hadir. Saya yang akan menggantikan untuk sementara…”

Dan proses belajar mengajar di kelas pun berjalan seperti biasanya. Tetapi saya sendiri tidak tenang. Apakah ketidakhadiran Pak Andre ini ada kaitannya dengan kedatangan dia di toilet tengah malam kemarin? Jangan-jangan gara-gara dikuntit oleh hantu malah jatuh sakit? Jujur sebetulnya saya hari ini juga mulai agak meriang. Entah Daniel, Ismail dan Felix juga agak sakit apa kagak.

Mungkin hantu itu membuntuti Pak Andre semenjak dia ke toilet tua itu. Lalu akhirnya sekarang jatuh sakit. Ugh, mendengar itu saya jadi merasa seram sendiri. Tapi tiba-tiba saya teringat satu hal. Felix kemarin hanya bilang dia melihat hantu. Tetapi selanjutnya setelah itu, hantu itu kemana? Ikut Pak Andre kah? Menghilangkah? Atau…

“Yang duduk di tengah lagi melamun itu,” tiba-tiba suara Pak Galih terdengar nyaring.

Sesaat kemudian seisi kelas menolehku.

Oh-ou..

“Ya, kamu yang bengong tadi. Coba maju ke depan dan kerjakan soal di papan.”

Aku maju perlahan ke depan. Daniel dan Ismail hanya cengar-cengir. Sialan! Udah gak enak badan dan sekarang disuruh maju kerjakan soal.

Aku berdiri bengong memegang spidol. Tidak tahu harus tulis apa. Ini soal tentang apa? Simbol apa itu? Langkah awalnya apa? Aku benar-benar nge-blank.

Duh! Akhirnya saya menjawab jujur. “Maaf Pak, saya dari tadi sudah tidak enak badan. Jadi tidak bisa konsentrasi.”

Pak Galih, melihat wajah saya yang memang agak pucat, akhirnya berbaik hati menyuruh saya duduk kembali dan memanggil anak lain maju mengerjakannya. Fuuh, selamat. Terima kasih Pak Galih…

Tetapi sepertinya aku tidak sanggup bertahan sampai akhir pelajaran Fisika. Saya betul-betul sakit kepala. Kalau pulang langsung sepertinya aku tidak sanggup. Jadi akhirnya putuskan tidur sebentar di klinik sekolah dulu.

Dipapah Ismail, kami berjalan menuju klinik sekolah yang terletak di Gedung Timur lantai dua. Gedung ini lantai satunya adalah kantor guru dan kantor kepala sekolah. Ketika kami melewati kantor guru aku bisa melihat sekilas ruangan di dalamnya karena pintu tidak tertutup. Sebagian besar kosong. Hanya satu dua orang guru saja yang sedang bekerja. Gak aneh sih, kan memang lagi jam mengajar, pikirku dalam hati. Kamipun berjalan dan berbelok menuju tangga menuju klinik.

Begitu sampai di klinik, tidak ada siapa-siapa. Biasanya yang bertugas jaga klinik sekolah adalah anak-anak dari ekstrakurikuler PMR (Palang Merah Remaja, kalau kalian tidak tahu). Tetapi seperti yang saya sebut tadi, karena sedang jam sekolah jadinya gak ada yang jaga.

Saya langsung rebah di ranjangnya. Si Ismail langsung pergi dari situ. Katanya, dengar-dengar dari senior kalau klinik sini termasuk tempat yang angker juga. Ah peduli amat. Saya terlalu capek dan ngantuk untuk itu. Dan tidak berapa lama, saya pun sudah terlelap…

 

Krieek…

Huh? Ada yang buka pintu? Mungkin anak PMR yang jaga klinik. Sudah jam istirahat kah? Tetapi perasaannya saya baru tidur sebentar saja. Entah berapa lama aku tertidur. Saya masih ingin tidur lagi lebih lama. Jadi saya tidak peduli dengan orang yang masuk.

Tetapi anehnya, saya gak mendengar suara langkah kaki. Saya tidur membelakangi jendela. Cahaya matahari menyinari menembus tirai yang tidak tertutup sempurna. Dan saya tahu ada yang berdiri di belakangku. Kenapa? Karena saya bisa melihat bayangannya…

Sesosok yang kelihatannya perempuan berdiri diam saja. Saya rasa sedang menatapku. Ugh, masa beneran ada hantunya di sini? Sekarang saya betul-betul menyesal tidak langsung pulang ke rumah tadi.

Tiba-tiba jemari itu mulai menyentuh bahu saya. Lalu perlahan-lahan mulai mendekat ke leher…

“AAAAAGGGHHHH!” saya tidak tahan.

Aku langsung berdiri dan memberanikan melihat sosok itu. Dan ternyata.. DORIS!!!

“Ah! Kamu mengagetkan saja!” ujar saya dengan napas tersengal-sengal, sedangkan Doris hanya tertawa terbahak-bahak. Fuuh, untung bukan hantu beneran.

“Napain ke sini? Pake nakutin orang segala” tanya saya keheranan.

“Nge-cek loe udah bangun atau belum. Ini, guru Biologi bilang tiba-tiba mau ulangan. Kita diberi waktu sebentar buat belajar. Loe bisa ikut gak?”

Wew… Baru dua minggu sudah ulangan? Gurunya memang sadis banget. Mana aku gak belajar apa-apa lagi. Tapi saya paling males kalo harus ikut ulangan susulan. Soalnya, jadinya bisa nyontek atau kerja sama, hehe.

Setelah berpikir sesaat saya rasa lebih bagus saya masuk kelas saja, “Ikut deh. Yuk bareng-bareng balik ke kelas.”

“Yuk…” ujar Doris sambil berjalan menuju pintu keluar.

“Omong-omong, kok kamu bisa keluar dari sini?” tanya saya penasaran.

“Gurunya gak di kelas. Yuk.. yuk cepat-cepat balik ke kelas buat belajar,” Doris tarik tanganku untuk bergegas.

“Bentar-bentar,” belum sempat aku protes aku sudah ditarik oleh Doris keluar dari ruangan. Kami pun lari menuruni tangga, dan saya tidak tahu bagaimana kejadiannya, tetapi dalam sekejap kami jatuh, dan kertas-kertas bertebangan.

“Aduh!” suara perempuan menjerit tertahan.

Kami telah menabrak ibu petugas tata usaha sekolah. Saya belum tahu nama ibunya. Posisi tangga di sini memang agak rawan. Sehabis turunan tangga, depannya adalah sudut mati. Jadi gak akan kelihatan kalau ada yang berjalan kemari. Dan begitu sebaliknya, orang yang lewat gak akan tahu kalau ada orang yang lari turun dari tangga. Dan itulah sebabnya kami tidak sempat berhenti ketika dia tiba-tiba muncul.

Untung ibunya tidak apa-apa. Hanya saja kertas-kertas terlanjur berserakan ke mana-mana. Buru-buru kami bantu memungut. Ibunya kasihan juga. Dia tidak marah walaupun kami yang salah karena lari-lari. Karena merasa tidak enak kami pun membantu membantu membawakannya sampai ke kantor tata usaha.

Kantor TU terdiri dari beberapa meja. Dan di situ ada satu ruangan khusus lagi, itu adalah ruangan kepala sekolah.

“Maaf yah Bu, kami gak sengaja. Tadi terburu-buru soalnya ada ulangan di kelas Bu,” jelas Doris. Doris kelihatan jelas ingin cepat-cepat kembali ke kelas.

Di saat itu juga Pak Lukman berjalan masuk. Dia melihat kami berdua terheran-heran dan bertanya ada apa. Ibu TU-nya pun menjelaskan perihalnya. Setelah mendengar sambil mengangguk, dia pun berkata, “Yuk masuk ke ruanganku.”

Aduh, mati kami…

 

Kami berjalan masuk ruangan kepala sekolah. Dindingnya berwarna putih dihiasi dengan beberapa foto pendahulu kepala sekolah di bagian belakang. Kemudian di bagian belakang juga ada sebuah rak berjejer dengan piagam dan piala yang entah dimenangkan semenjak zaman apa. Juga ada beberapa foto kumpulan siswa. Ada yang fotonya masih hitam putih. Wah jadul amat pikirku. Tetapi sebagian besar fotonya sudah berwarna. Mayoritas foto ramai-ramai satu angkatan tebak saya.

Pak Lukman pun beri nasehat agar jangan lari-lari di sekolah terutama di tangga. Intinya adalah kalau sampai kami tertangkap lari-lari, maka akan dijatuhi sanksi. Belum tahu apa sanksinya. Dan itu yang membuatnya jadi menyeramkan. Doris sendiri saya lihat dia sepertinya sudah sangat tidak tenang. Entah karena waktu untuk baca buku semakin pendek, atau karena takut dapat pandangan buruk dari kepsek. Setelah itu, kami pun disuruh kembali ke kelas.

 

Kami akhirnya berjalan kembali ke Gedung Barat. “Jef, kamu tadi ada melihat foto di ruang kepala sekolah?”

“Yah, lihat sekilas doang. Foto-foto siswa-siswi.” jawab saya sekenanya.

“Kamu ada melihat yang aneh?” tanya Doris pelan, sepertinya untuk meyakinkan saya apakah aku melihat sesuatu yang tidak biasa.

“Tidak. Emang ada sesuatu di foto tadi?” tanyaku lagi.

“Hm.. Gak sih, cuman aneh aja tadi di meja Pak Lukman ada foto seorang siswi. Fotonya dah kusam gitu.”

“Terus, kenapa?” tambah bingung aku.

“Foto di cewe itu saya… Saya gak tahu kenapa, tetapi mata si cewe itu dihitamkan gitu. Kelihatannya seram sekali aja sih…”

Saya pun mencoba membayangkannya.. Mungkin seperti pakai spidol dihitamkan begitu?

mata-hitam-2

Hm, matanya dihitamkan kayak berlubang? Kenapa saya merasa pernah mendengarnya di mana yah?

(Bersambung)