Saya seorang yang hobi berkelana sendirian atau beberapa teman. Backpacker istilahnya. Nah cerita saya ini adalah cerita pengalaman saya saat mengunjungi Kamboja.

Ada banyak alasan mengapa Kamboja, menjadi salah satu destinasi terbaik untuk para backpacker. Berbeda dengan tetangganya, Thailand, Kamboja lebih santai dan pelan. Secara biaya, Kamboja adalah salah satu daerah termurah yang pernah saya kunjungi. Dan tempat yang dikunjungi? Kamu bisa pergi ke Angkor Wat untuk menikmati kompleks candi terbesar di dunia. Atau kamu juga bisa melihat masa lalu yang kelam di Kamboja, Ladang Pembantaian, area bekas pembantaian Khmer Merah.

Pengalaman unik ini terjadi bukan saat saya di obyek wisata. Melainkan di tempat saya menginap. Saya menginap di rumah warga lokal melalui fasilitas AirBnb. Bagi yang belum pernah dengar, itu aplikasi yang memungkinkan kamu untuk mencari tempat menginap di tempat yang kamu kunjungi.

Rumahnya bukan rumah yang bagus-bagus amat. Itu sebabnya harganya murah meriah dibanding yang lain. Saya memang sengaja memilih harga yang murah-murah. Maklum backpacker, hehe. Rencananya saya akan menginap di situ selama seminggu selama di Kamboja. Secara review sih lumayan yah. Cuman ada beberapa komentar dari orang sebelumnya, kalau terdengar suara misterius di dalam rumah.

Saya tidak tahu itu mereka serius atau tidak. Tetapi karena murah, saya sih langsung booking saja. Kalau memang bertemu hantu, biar itu bisa saya tulis di blog saya saja haha.

Nah, singkat cerita, saya waktu di Indonesia sudah memesan rumah itu, jadi begitu sampai di Kamboja, saya sudah tahu rumahnya. Pemiliknya adalah seorang pria paruh baya. Tetapi dianya sendiri tidak tinggal di situ. Hanya ada pembantunya yang mengurusi kebutuhan saya pada pagi hari (menyiapkan sarapan dan membersihkan rumah). Belum pernah ketemu pemiliknya sih. Selama ini hanya ketemu si pembantu saja.

Hari pertama dan kedua sebetulnya tidak ada yang aneh. Mungkin kecapekan, saya setiap malam ketika sampai di penginapan, sebentar saya sudah langsung ketiduran.

Nah keanehan baru terjadi pada saat hari ketiga saya di Kamboja. Pada saat saya sedang berbaring di kamar, saya mendengar suara. Seperti suara rantai yang ditarik. Sepertinya ada anjing yang dirantai. Tetapi setahu saya, di rumah ini tidak ada pelihara anjing.

Apakah itu anjing tetangga?

Tetapi bukan juga, soalnya suaranya terdengar seperti dari dalam

Sekedar info, rumah ini hanya satu lantai. Dan saya sendiri sedang menempati kamar di paling ujung. Penasaran saya pun bangkit dari kasur dan keluar dari kamar.

Krek.. krekk…

Suara rantai ini terdengar lebih keras. Kondisi di rumah sangat sepi. Kalau tidak salah waktu itu sudah jam 1 lewat tengah malam di sana. Saya berjalan mendekati sumber suara yang sepertinya berasal dari ruangan di ujung rumah. Lampu di luar dalam keadaan mati. Saya hanya membiarkan lampu di dapur yang menyala.

Krek… krek!

Saya berdiri di depan sebuah kamar yang terkunci. Pada saat awal-awal datang, saya diberitahu asisten rumah tangga si pemilik kalau itu kamar si pemilik. Jadi dilarang masuk.

Tetapi saya tahu dalam rumah ini seharusnya tidak ada orang, selain saya. Apa mungkin di dalamnya binatang peliharaan si pemilik? Saya mencoba mengintip melalui lubang kunci pintu. Tetapi tidak terlihat apa-apa.

Krek.. kreek..

Suaranya kembali terdengar. Saya mengetuk pintu beberapa kali. Suara ketukan mengisi seluruh rumah. Kalau dipikir-pikir kembali agak bodoh sih. Kan cuman saya sendiri di situ. Saya kemudian mencoba membuka pintu kamarnya. Ternyata terkunci.

Beberapa saat kemudian suara rantai terdengar lebih keras dari balik kamar. Dan kali ini juga seperti terdengar suara.

“…knhom!”

Saya mendengar suara orang!

 

Panik saya mengetuk pintu lagi..

“Juoi k’nyom!” sahut dari dalam.

Saya tidak mengerti apa yang dikatakannya. Tetapi dari suaranya terdengar dia sepertinya sedang butuh bantuan. Saya di negeri orang. Sendirian. Tidak mengerti bagaimana cara meminta tolong ke orang lain atau polisi. Buru-buru, saya lari ke kamar mencari handphone. Untuk menghubungi pemilik.

Yang mengangkatnya adalah si pembantu. Dia terdengar jengkel, mungkin karena saya membangunkannya tengah malam. Tetapi dia langsung terdiam ketika saya menceritakan kepadanya saya mendengar suara aneh. Dia menenangkan saya dan mengatakan mungkin saya salah mendengar.

Tetapi tentu saja itu gak benar. Karena saya masih mendengar suara orang yang memanggil, dari dalam kamar. Saya mengarahkan handphone ke arah kamar, biar si asisten untuk mendengar juga. Setelah itu, ia terdiam sebentar. Kemudian dia pun akhirnya setuju untuk datang ke rumah.

“Please. No near the room,” ujar si pembantu mewanti-wanti.

Saya menutup handphone. Dari balik kamar saya kembali terdengar suara orang teriak.

“Help! Juoi k’nyom!”

Saya langsung buru-buru membalasnya.

“Are you ok?”

“Help!”

Memang benar ada orang di dalam kamar! Dan memang dia terperangkap. Saya panik. Saya ingin menenangkannya, tetapi tidak tahu bagaimana cara meyakinkannya.

“The key! Key in kitchen!”

Oh! Tentu maksudnya kunci. Saya mencoba mencari dan mencari. Ternyata memang ada sekumpulan kunci yang tergantung di dinding. Buru-buru, saya berlari kembali ke depan kamar pemilik yang terkunci. Satu per satu kunci saya coba, hingga ada satu kunci yang cocok.

Saya putar, dan suara kunci pintu terbuka. Langsung saya buka pintu dan masuk.

 

Kosong! Tidak ada apa-apa di dalam kamar itu. Kebingungan saya melihat sekeliling saya. Sebuah ranjang di tengah, kemudian televisi di seberangnya. Beberapa lukisan minyak tergantung di dinding. Sebuah lemari pakaian berwarna coklat di sisi seberang pintu kamar.

Darah saya langsung berdesir. Masa sih dari tadi saya mendengar suara hantu...?

(Bersambung)