Assalammualaikum penikmat cerita misteri. Terimakasih Mas Billy yang udah share cerita saya yang kedua “Pengalaman Mistis di Gunung Sumbing” kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman saya yang lain.


Di cerita yang kemarin saya bercerita tentang kakak saya yang juga ikutan mendaki gunung bersama saya dan teman-teman. Kakak saya ini bekerja sebagai penjaga palang pintu kereta di daerah saya. Mas Gosank, biasa saya memanggilnya.

Malam itu saya berencana untuk ikut Mas Gosank shift malam, karena katanya dia hanya sendirian malam itu. Teman shiftnya ada hajatan. Saya baru kali ini melihat tempat kerja kakak saya. Tempatnya bisa dikatakan serem karena agak masuk ke gang yang dipenuhi pohon-pohon gede dan jalanan gelap yang sepi. Di seberang pos kakak saya memanglah perumahan namun kalau sudah jam 9 malam ke atas sudah seperti kuburan karena saking sepinya. Maklum, isinya pegawai semua. Hanya sesekali, maaf “b*nci”, yang lewat dan menggoda kita yang berada di pos.

Malam itu saya baru ingat kalau malam Jum’at. Memang bukan Kliwon, namun bulannya terang dan bulat. Kita hanya ngobrol biasa dan mendengarkan radio (maklum pos baru belum ada tv-nya) Sesekali saya keluar saat ada kereta lewat (dari kecil saya suka lihat kereta lewat) hehe…

Nah saat jam menunjukkan pukul 2 pagi, entah knapa hawanya jadi dingin dan menusuk tulang. Padahal saya sudah pakai jaket tebal, kakak saya juga berpikir hal yang sama. Kemudian dia bikin kopi untuk yang kedua kalinya karena takut ngantuk dan untuk menghangatkan diri. Saat itu, saya masih di luar dan menghadap ke seberang kearah perumahan. Oh iyaa, di situ sudah rel ganda dan bisa dibilang jarak nya agak jauh, saya memperhatikan lampu tanda hati-hati di rel yang dekat dengan perumahan. Di sana saya samar-samar melihat ada yang berjalan membawa senter.

Ah saya pikir itu orang sekitar yang baru pulang atau memang sedang jalan-jalan. Saya tidak begitu memperhatikan lagi namun saya penasaran dan melihatnya sekali lagi untuk memastikan. Orang itu masih berjalan menyusuri rel kereta dan menyorotkan senternya ke rel seperti mencari sesuatu. Saya agak merinding cuma tidak tau kenapa.

Semakin lama semakin jelas karena di perumahan lampunya agak terang dan orang itu ternyata memakai baju yang mirip dengan kakak saya. Oh, ternyata bagian yang mengontrol rel kereta. Saat di depan saya, beliau melihat ke arah pos dan tersenyum tanpa mengatakan sesuatu dan tetap berjalan. Namun saya mendengar kakak saya memanggil nama saya dengan berbisik “Fin..Fin..Fin masuk. Cepat masuk,” dia bicara dengan nada yang berbisik.

Saya tanya “Kenapa mas??”.

“Udah cepetan masuk,” dengan nada yang masih berbisik namun agak keras dan muka pucat pasi seperti habis melihat hantu, saat saya sudah di dalam kakak saya melongok ke jendela seperti mencari sesuatu. Karena saya penasaran saya juga ikutan dan bertanya “Kenapa si Mas?”

“Gak papa,” jawabnya tapi dia tetap pucat dan duduk lesehan di lantai (tadinya duduk dikursi). Saat subuh tiba ada bapak-bapak yang mengontrol rel lewat dan beliau menyapa kakak saya dengan kode dan becandaan mereka, saya tidak tau maksudnya apa. Kemudian kakak saya nanya ke saya “Kamu tadi lihat ada orang bawa senter kayak bapak tadi barusan gak??”

“Liat mas, kenapa?” Saya balik tanya.

“Belum lama sih kurang lebih sebulanan yang lalu, yang bagian kontrol rel di sini ada bapak yang barusan sama Mas … (Saya lupa namanya) tapi sekarang tinggal bapak yang subuh tadi aja,” katanya

Saya heran, pikir saya “Loh kan tadi jam 2 juga ada yang kontrol rel juga kan”.

“Nah tapi mas A (sebut saja) beliau meninggal pas mau berangkat kerja karena kecelakaan di tabrak motor anak-anak yang kebut-kebutan di jalan. Nah semenjak hari itu cuma ada bapak yang subuh tadi karena belum ada penggantinya” lanjutnya.

“Lah terus yang pagi jam 2 tadi siapa Mas?” tanyaku

“Itttuuuu yang jadi masalah” jawab kakak saya

“Masalah?” Tanyaku lagi

“Akhir-akhir ini yang shift malam sering banget lihat Mas A masih jalanin tugas. Dia lewat pasti jam 2 entah dis ini atau di pos lain. Dia jam 2 pasti kelihatan kalau kamu merhatiin rel, namun dia gak pernah berada di rel yang deket kita tapi pasti di seberang, udah 2 minggu ini banyak yang ngeluh gitu makanya hari ini aku ngajakin kamu,” jawabnya.

“Beneran mas?? Terus yang tadi itu berati??” Tanyaku kaget dan tak percaya.

“Ya setan,” jawab kakak saya dengan wajah yang datar.

“Asdgfhjklzxvvbnmqwerrtyyuiop” saya ngomong sekenanya saking kaget dan takutnya.

Pas setelah kakak saya cerita saya jadi inget wajah Mas A tadi dan merinding lemes.

Saat pergantian shift yang pagi akhirnya kita pulang dan saya memutuskan untuk tidak pernah lagi ikutan kakak saya jaga malem di situ. Namun akhirnya setelah sebulan meninggalnya Mas A, sudah tidak ada kabar lagi tentang Mas A. Semoga tenang di sisi-Nya amiin. Dan sekarang kakak saya juga sudah pindah ke pos yang dekat dengan alun-alun jadi sudah ramai dan saya berani menemaninya kalau shift malam lagi.

Sekian cerita saya, maaf kalau yang ini agak kurang menarik, saya akan cerita pengalaman saya yang lain dilain kesempatan. Terimakasih dan wassalamu’alaikum wr.wb

-Penulis: Alfin