Bagian Terakhir

Ternyata nama aslinya Yanghao. Adiknya bernama Yangyi. Mereka adalah saudara kembar. Dikarenaka perekonomian keluarga yang buruk, Yanghao pada usia 16 putus sekolah dan mulai bekerja di luar.

Empat tahun setelah kepergiannya, Kampung Man dan Kampung Man Barat terkena wabah penyakit. Adiknya adalah satu-satunya orang yang selamat. Namun dikarenakan wabah penyakit itu, adiknya terkena penyakit aneh.

Demi menngobati adiknya, dia menempuh segala cara untuk mengumpulkan uang, bahkan sampai membawa orang untuk ke kampung untuk mencari harta karun. Namun satu per satu dibunuh oleh adiknya. Adiknya lebih memilih mati daripada harta leluhurnya jatuh ke orang luar.

Suatu ketika Yanghao mendapat kabar dari Gaoyan bahwa group majalah “Penakut” sedang mengadakan temu darat. Orang-orang seperti Kuaidao dan novelis-novelis cerita misteri dia sudah tahu. Di tengah keputusasaannya, dia kembali menemukan secercah harapan.  Mungkin dia bisa meminjam kemampuan mereka untuk menemukan harta karun itu. Setelah mendapatkan uang, dia bisa mengobati adiknya.

Kebetulan Gaoyan ada urusan sehingga harus pergi ke Amerika. Dia pun menyamar dirinya sebagai Gaoyan. Menghubungi Anran supaya lebih kenal. Dia kemudian membujuk sang adik supaya pergi ke Kampung Man Barat.

Siapa tahu, ternyata ada kelompok yang menyasar ke Kampung Man Barat, sehingga sang adik tahu. Sang adik sudah sengaja meletakkan tulang manusia untuk menakut-nakuti. Tetapi ternyata kami masih tetap bertahan. Sehingga akhirnya membubuhi obat tidur dan memindahkan mereka ke Kampung Man Barat. Namun di tengah proses, Feiding sadar. Sehingga dipukul pingsan dan disembunyikan. Kemudian dia lanjutkan dengan merusak jembatan supaya bisa mengurung kami sampai kami mati kelaparan.

Tetapi perlahan-lahan mereka mulai sadar, kami tidak bermaksud mencari harta karun. Itu sebabnya dia menolong Xiaoyao.

“Bagaimana caranya Yangyi memindahkan kami? Walaupun kalian kerja sama sekalipun, tetap tidak mudah memindahkan kami,” tanya Kuaidao penasaran.

Yanghao menjawab, “Ingat gua altar tulang itu? Sebetulnya di balik dinding altar itu terdapat jalan keluar. Di situ terdapat jalan sekitar 100 meter. Dua kampung yang jaraknya kelihatan berjauhan, sebetulnya hanyalah terpaut 100m. Feiding dan tas kalian semuanya ada di lorong itu. ”

Setelah menjelaskannya, Yanghao menghampiri Anran. “Maafkan saya, Anran.”

“Tidak apa-apa, “jawab Anran sambil menahan tangis. “Lalu, sekarang rencana kamu ke depan bagimana?”

Yanghao tidak menjawab, dia hanya bertanya, “Apakah kamu akan mengingat saya? Nama saya Yanghao.”

Anran mengangguk. Yanghao tersenyum dia merangkul Anran. Lalu dia berbalik dan mengucapkan terima kasih kepada kami. Setelah itu dia pun melompat ke jurang…

 

Kami pun menuju kembali ke Kampung Man Barat, lalu ke gua. Di balik dinding altar tulang, setelah diperiksa memang ada pintu batu. Setelah berhasil didorong, ternyata memang ada lorong gelap. Feiding memang ada di dalam. Tas kami semua juga ada di situ.

Laojiu langsung menghampiri tasnya dan mengambil botol minumnya. Meminum air sambil menatap Feiding.

“Ah, kok saya bisa sampai pingsan di sini?” tanya Feiding kebingungan. “Terus apa kalian sudah menemukan harta karunnya?” Laojiu menepuk punggungnya, “Bro, kamu sudah pingsan tiga hari. Kalaupun kami menemukannya, memangnya kamu bisa menggalinya keluar?”

Feiding menepuk dada dan mencoba berdiri, mencoba membuktikan dia masih kuat, tapi kakinya ternyata tidak mampu menopangnya, sehingga dia terjatuh duduk kembali. Kami semua melihat tingkah lakunya tidak bisa menahan tawa.

 

Seminggu kemudian saya mengirim cerita “Kisah Misteri di Kampung Man” ini ke Anran. Anran langsung menghubungi saya lewat QQ (messenger yang digunakan orang Tiongkok). “Kamu betul-betul langsung menulisnya yah.”

“Tentu saja. Kita tidak bisa kabur dari memori. Bagaimanapun juga cerita ini ada bagian yang cukup menyentuhnya. Jadi saya berharap orang lain juga bisa mengetahuinya. Hanya saja…. nama-namanya apa saya ganti saja?”

Anran menjawab, “Tidak apa-apa kok. Pakai nama itu saja.” Lalu dia lanjut lagi, “Aih, mau pergi ke Kampung Man lagi ?”

Dengan mantap saya menjawab “Tentu saja, kan ada harta karun di situ.”

 

Bagian ini merupakan bagian terakhir kisah misteri ini. Cerita ini merupakan bagian dari cerita misteri di Kampung Man.