Okay, saya tidak menjamin cerita ini cerita nyata. Ini adalah pengalaman kakek buyutku. Beliau menceritakannya ke kakekku. Lalu kakekku menceritakannya ke ibuku. Saya mendengar cerita ini dari ibuku.

Kakek buyutku ceritanya dalam perjalanan pulang setelah kumpul-kumpul dengan temannya. Dia tinggal di daerah pinggiran yang hutannya masih lebat. Jadi untuk pulang dia harus menembus hutan itu, dan terkadang melewati beberapa lahan orang atau sebagainya.

Kondisi saat itu sudah larut malam. Kakek buyut berjalan menelusuri jalan setapak yang terbuat dari kerikil dan bebatuan kecil. Suasana sangat sunyi, selain suara langkah kakinya, tidak ada suara apa-apa lagi. Lalu, langkah kakek buyut tiba-tiba berhenti. Ada sesosok orang berdiri di depannya.

Kakek buyut tidak bisa melihat dengan jelas. Hanya bayangan hitam saja. Kita harus tahu ini ada masa akhir tahun 1800an, di dalam hutan. Sinar rembulan dan bintang pun tidak bisa menembus ke jalan setapak karena terhalang oleh pohon-pohon.

Entah semenjak kapan sosok bayangan itu sudah di situ. Kakek buyut tidak mendengar suara langkah kaki walaupun sosok itu berada di jalan setapak juga. Sontak beliau agak terkejut dan mencoba melihat lebih jelas siapa sebetulnya yang di depannya itu.

Tetapi alangkah terkejutnya, bayangan itu tidak memiliki kepala! Tidak percaya apa yang dilihat, beliau memicingkan mata untu melihat lebih pasti lagi. Apalagi memang situasi di saat itu gelap sekali. Pikirnya mungkin salah lihat. Namun dilihat bagaimanapun, sosok bayangan itu memang tidak berkepala.

Sebagai seorang tukang batu, kakek buyutku ini sudah terbiasa hal-hal kasar dan yang berkaitan dengan adu otot. Jadi beliau, menenangkan dirinya dan memikirkan opsi-opsi yang bisa beliau lakukan.

Beliau pikir, untuk menghadapi hantu tanpa kepala ini, hal terbaik adalah mengabaikannya dan pura-pura tidak melihatnya saja. Jadi tidak ada alasan untuk merasa takut. Beliau pernah mendengar orang bilang bahwa hantu akan semakin kuat apabila rasa ketakutan semakin kuat. Dan apabila hantu semakin kuat, akan semakin bahaya.

Jadi beliau pun berjalan cepat dan bernyanyi keras-keras. Bayangan mengerikan itu sepertinya tidak bereaksi atau amempedulikannya. Hanya berjalan maju terus menerus. Setelah beberapa menit-menit yang menegangkan berlalu, kakek buyutku menyadari bayangan itu sudah hilang.

Beliau sampai di rumah dalam keadaan shok, tapi baik-baik saja. Pengalaman itu membuat dia teringat terus. Beliau kemudian menikah, dan memiliki anak. Dari seorang ayah, kemudian menjadi seorang kakek. Sebetulnya cerita itu mungkin sudah beliau lupakan. Mungkin beliau menganggap itu hanyalah ilusi atau bagian dari imajinasinya saja.

Namun suatu hari, beliau membaca surat kabar di kotanya, dan dikejutkan kembali. Artikel itu menyebutkan pekerjaan mengganti jalan kerikil ke aspal terpaksa terhenti sementara. Saat para pekerja sedang menggali jalanan untuk mempersiapkan jalanan, mereka menemukan tulang belulang manusia. Posisi tulang-tulang itu ada di tempat kakek buyut melihat hantu tanpa kepala puluhan tahun yang lalu. 

Yang lebih seram lagi adalah, dari dari tulang-tulang itu, tidak ada tengkoraknya. Walaupun para pekerja sudah mencari-cari, tulang tengkorak itu tidak pernah ditemukan.

Penulis: Jonas