Saya menginjak kelas 1 SMA, saya masuk ke salah satu pesantren di daerah Jawa karena saya berasal dari Kalimantan Timur.

Malam itu teman asrama saya sudah makan malam, hanya saya yang belum. Jarak antara asrama dan dapur lumayan jauh, saat itu saya pergi sendiri ke dapur.

Dapur kami berada di luar asrama. Asrama kami tidak tingkat tapi seperti kompleks perumahan. Saat itu saya berjalan sendiri sambil membawa piring dan gelas melewati asrama belakang yang kosong karena saat itu sedang libur.

Saya masuk ke dapur yang gelap, karena sudah malam tidak ada orang yang menjaga dapur. Dapur kami sangat luas untuk seribu santri tapi saat itu sangat sepi hanya satu lampu yang menyala. Sebelum masuk ke dalam dapur angin sangat kencang berhembus, di samping dapur berjejer pohon rimbun dengan kelas kelas kosong di sebelahnya.

Angin sangat kencang tapi saya tidak menghiraukan. Saya mengambil nasi dan lauk kemudian saya duduk dan makan (karena kami dilarang membawa makanan ke kamar). Ketika saya sedang mkan angin masih berhembus kencang dengan hanya satu lampu menyala tidak ada lampu sama sekali karena hanya asrama bagian depan yang terang karena santri yang tidak berlibur ditempatkan di asrama depan, dan peraturannya, setelah jam makan malam maka dapur ditutup. Saya memberanikan diri saya makan seperti biasa dan tiba-tiba terdengar siulan dari balik pohon rimbun di samping dapur. Saya pura-pura tidak mendengar tapi semakin lama angin semakin kencang dan siulan semakin jelas.

Sayapun akhirnya makan dengan cepat dan kembali ke asrama. Anehnya saat di depan asrama depan tidak ada angin sama sekali bahkan hening. Saya bertanya pada teman saya, “Tadi di sini anginnya kencang ga?”

Dan teman saya hanya menjawab “Ga ada. Kenapa?”

Saya bingung dan menceritakan pada teman saya akhirnya mereka bilang “Gila, berani banget lu ke dapur sendiri. Dasar nekat.” Saya cuma ketawa. Dari kejadian tersebut saya tidak pernah lagi makan sendiri ketika jam 10. malam.

(Bersambung)

-Mafvitasari