Apakah ada kemungkinan orang yang sedang kritis, arwahnya keluar? Mungkinkah arwah bisa melakukan sesuatu yang mustahil seperti tanda tangan. Cerita yang satu ini kami pribadi merasa sangat luar biasa, sehingga sulit untuk dipercaya.

Waktu itu kalo gak salah sekitar pukul 9 malam. Biasanya unit gawat darurat di sini lebih selalu berupa kasus kecil seperti sakit perut setelah makan rebus-rebus, kaki keseleo pada saat jalan-jalan, leher keseleo gara-gara lihat cewe cakep, sakit punggung dan seterus-seterusnya.

Satu waktu, sebuah ambulans tiba-tiba datang membawa seorang anak kecil yang mengalami kecelakaan mobil. Selain patah tulang, juga terjadi pendarahan internal. Selain itu pada saat melakukan pengecekan USG, juga terlihat ada gumpalan darah di limpa. Tekanan darahnya sangat rendah, kondisinya kritis dan dia harus segera dioperasi, saat itu juga!

“Mana anggota keluarganya?” tanya gua ke perawat.

“Dia diantar dengan ambulans tanpa pendamping. Kami belum bisa menghubungi anggota keluarganya.”

Gua lihat dokter bedah masih berusaha melakukan pertolongan pada tekanan darahnya, saya berjalan ke depan komputer untuk memastikan ada slot untuk kamar ICU. Lalu tiba-tiba muncul seseorang di hadapan saya. “Dok, bagaimana kondisi anak saya?”

Pada saat gua menengadah, ternyata seorang pria paruh baya berbaju kemeja setelan putih dengan celana kain. Bajunya tidak begitu rapih, malah bisa dibilang kotor dan kusut. Keadaannya juga kurang biasa bagi gua. Tidak seperti anggota keluarga pada umumnya yang gugup, menangis atau bahkan histeris. Dia malah terlihat tenang…? Tapi gua tidak ada waktu untuk peduli hal-hal seperti itu.

“Anda ayahnya?” Gua segera menyodorkan surat persetujuan ke dia. “Kondisinya saat ini tidak stabil. Dia mengalami patah tulang dan pendarahan internal. Masih belum jelas apakah ada organ dalam yang terluka. Tapi kami sudah memasang selang pernapasan. Sekarang, kalau pendarahan internal ini tidak segera dihentikan, maka bisa-bisa akan berujung kematian. Kalau Anda setuju, kami akan segera melakukan operasi untuk penyelamatan. Masalah yang lain bisa kita urus belakangan…”

Gua cerocos panjang lebar, gak peduli dia paham apa gak. Gua segera mempersiapkan untuk melakukan operasi darurat, menghubungi pihak ruang operasi. Pada saat itu sang perawat pun membawa surat persetujuan kemari. “Si ayah sudah tanda tangan menyatakan persetujuan.”

Ok, maka gua pun membawa ranjang si adik ini beserta mesin pernapasan memasuki ruang operasi. Si perawat mengantar ayah untuk duduk di ruang tunggu di depan ruang operasi.

Ruang tunggu rumah sakit

Ruang tunggu rumah sakit tidak ada orang sama sekali. Dan surat persetujuannya hanya ada bekas sidik jari berwarna merah.

Proses operasinya cukup penuh tantangan. Begitu perutnya dibuka, langsung mengalir keluar darah dalam jumlah banyak. Tekanan darah pasien dalam sekejap hampir menghilang! Untungnya berkat bantuan dokter anesthesia, kami berhasil menstabilkan kembali kondisi tekanan darahnya kembali. Kami bahkan sempat melakukan CPR di atas meja operasi. Akhirnya limpa yang rusak berhasil kami keluarkan, dua luka di usus halus juga berhasil dijahit kembali, setelah memasang tabung penyalur, perut dijahit kembali. Kemudian meminta spesialis tulang untuk melakukan gips, soalnya kata mereka lebih baik tunggu kondisi pasien memang sudah berhasil melewati masa kritis baru dipertimbangkan untuk melakukan operasi perbaikan posisi.

Setelah mengantar si adik keluar dari ruang operasi, perawat mencoba memanggil anggota keluarga. Tapi ruangan tunggunya kosong melompong. “Coba ditelepon?” Biasanya kadang-kadang memang bisa kejadian begini, anggota keluarganya tiba-tiba hilang. Kami memasukkan si pasien ke ruangan ICU terlebih dahulu.

Pada saat itu, datang lagi satu panggilan yang membutuhkan pertolongan darurat. Setelah memberi briefing singkat mengenai kondisi pasien dan proses operasi tadi, gua langsung meluncur ke ruangan UGD.

Malam ini betul-betul sibuk! Pada saat sampai di luar UGD, Gua mulai mendengar suara percakapan tim medis yang sedang sibuk menolong. Gua pun bertanya kondisi pasien pada salah satu perawat. “Korban kecelakaan mobil, seorang pria. Saat diantar ke sini, sudah beri GCS sebanyak 3 poin. Tulang iganya patah, dua sisi dada sudah terpasang hemothorax. Namun dari tadi kondisi jantung tidak stabil, sehingga perlu terus melakukan pertolongan. Awalnya kami ingin kamu melihat kondisi perutnya, tapi sekarang sepertinya sudah tidak perlu lagi…”

Ketika menyibak tirai….. Hati gua mulai merasa tidak karuan.

Di dasar tabung dan selang yang memenuhi sekujur badan, terlihat pakaian kemeja putih dengan celana kain. Pada saat itu juga, ponsel gua berdering, ternyata orang dari ICU menelepon. “Dok, tadi surat persetujuan itu ditandatangani siapa yah? Gak tercantum namanya, cuma ada bekas sidik jari merah…”

Pada saat itu, di tengah kesibukan para staf medis dalam melakukan penyelamatan, gua melihat tetesan darah yang masih baru di lengannya. Meninggalkan bekas-bekas sidik jari merah ke kasur….


Cerita ini betul-betul luar biasa jika dokter Haoyun tidak berbohong. Karena itu menandakan ayah sang anak yang seharusnya dalam kondisi kritis, hadir di depannya untuk menandatangani surat pernyataan. Memang ada kemungkinan sebetulnya ada dua orang yang berbeda, tetapi kalau begitu, mengapa suratnya ditandai dengan sidik jari darah?

Bagaimana pendapat kalian?