Hari ini aku pergi ke sekolah dengan perasaan yang aneh. Betapa tidak, tubuhku terasa sangat ringan. Mungkin, itu adalah pengaruh obat penenang yang sudah diberi dokter untukku. Kemarin sih, aku ingat aku dibawa ke dokter oleh keluargaku dan orang-orang.

Aku tak mengerti apa yang salah, aku ini hanya perempuan biasa tanpa penyakit serius, kok! Seperti biasa, rumah sepi. Aku melihat semangkuk besar nasi goreng ayam tertutup dengan tudung saji di meja makan besar. Tapi, hei! Apa ibu lupa aku harus makan pagi?

Biasanya ia akan menyediakan piring dan sendok untukku. Aku mencoba berpikiran positif. Mungkin ibu lupa, pikirku. Apalagi hari ini jadwalnya memberi kuliah. Aku pun mengambil peralatan makanku sendiri dan makan dengan lahap. Setelahnya, aku pun mandi dan mengenakan seragam sekolah. Fyuuh, untung saja aku tidak terlambat. Bel belum berbunyi, kok!

Tapi, ya, seperti biasa semua orang menjauhiku. Ada yang berlarian, ada yang memasang wajah kaget dan syok. Wah, wah, kalian mau memasang sandiwara untuk menjauhiku, ya? Itu tidak mempan, aku sudah biasa terkucil. Aku melenggang memasuki kelas.

Ya ampun. Ada Monica. Dia adalah ratu drama di sekolah. Sebenarnya aku membencinya, namun aku tak berdaya karena ia termasuk murid terpopuler di angkatan kami. Tapi kenapa si jahat itu murung? Dia terlihat sedang stres memikirkan sesuatu. Hm, memangnya ada apa sih hari ini?

Ada ulangan? Di panggil guru BK? Biasanya dia akan melontarkan kata-kata ejekan dan hinaan yang pedas kepadaku. Apakah dia sudah bertobat? Tapi di mana pisau yang biasa ia pegang? Saat ia mengancam ku itu, dia selalu membawa benda tajam. Teman baikku Sinta juga tidak menghiraukanku.

Matanya berkaca-kaca seperti bersedih. Lalu dia memalingkan wajahnya. Ada apa lagi ini? Apa yang membuatnya sedih? Aku berusaha menghiburnya dengan cara menepuk pundaknya. Namun dia tetap melempar pandangan nanar ke arahku seolah aku tak ada. Pelajaran dimulai.

Yesss, pelajaran kesukaanku! Matematika! Segera kutaruh bukuku dengan senyum kecil menghiasi wajahku. “Pagi Bu!” Murid murid di kelas, termasuk aku memberikan salam kepada Bu Hani, guru Matematika.

“Pagi, Anak-Anak,” Bu Hani sempat menatap tempatku dengan cara pandang yang tak biasa. Agak lesu dan nanar. Aku tak mengerti, kenapa semua bertingkah aneh di hari yang indah ini. Sebelum memulai pelajaran ia memimpin doa. Katanya, “Marilah kita berdoa untuk Meri agar ia tenang di sisiNya. Berdoa, mulai.”

Aku agak kaget. Itu aku, kan? Nama Meri hanya dimiliki 1 murid di kelas ini, yaitu aku. Masa aku sudah meninggal? Ah, mungkin itu hanya halusinasiku. Mungkin ada siapa, kek, yang meninggal. Tapi kupingku yang sebobrok jamur kuping rebus ini menangkap hal yang tidak-tidak.

Memasuki jam istirahat, seorang petugas polisi bernama Andre (aku tahu dari badge namanya) menghampiri Bu Leli, guru kelasku. “Bu, mohon maaf, saya harus menahan satu murid di kelas Ibu, hasil visum dan penyelidikan sudah membuktikan dia pelakunya.”

“Oh, kasus Meri? Sayang sekali. Benarkah, Pak Andre? Apa buktinya?” “DNAnya murid ini ditemukan di pisau lipat dan seragam putih-abu abu Meri yang masih berada di toilet sekolah. Selain itu, sidik jarinya ditemukan juga di roknya dan tubuhnya. Murid ini terbukti memberi kekerasan fisik yang cukup parah kepada Meri. Namanya Monica Rashid.”

Pak Andre si petugas polisi itu memberi surat bukti visum pada Bu Leli. Aku sangat terkejut, syok, kaget, takut dan merasa aneh, semua perasaan itu menjalar di dadaku. Aku sudah mati? Apalagi foto mayat itu menyerupai diriku. Aku mau pingsan dan meninggal untuk kedua kalinya. Akhirnya aku ingat segalanya. Mengapa aku dibawa ke dokter. Darah-darah dan luka memar. Pisau lipat. Monica. Rok dan seragam yang tertarik. Mayat menyerupaiku. Tidak! Tidak! Tidaaaaak! Tuhan, kenapa ini tak adil!!!!

Penulis: Diana