Saya rasa ini mungkin pengalaman teraneh yang pernah saya alami dalam hidupku. Saya seorang mahasiswa tahun ke tiga dan tinggal sendirian di kost. Saya tidak tahu apakah ini suatu bakat atau mistis, yang jelas saya tiba-tiba bisa melukis ketika saya tertidur.

Sudah beberapa minggu berlalu. Terkadang di malam-malam tertentu saya akan menggambar sesuatu. Lukisan-lukisan yang jadi umumnya sangatlah rapih dan detail. Saya tidak berbakat melukis. Jika disuruh membuat ulang lukisan-lukisan itu, sudah pasti tidak mungkin. Tema-tema lukisan pun beragam. Satu waktu, lukisan tentang ladang edelweiss, di lain waktu, sebuah gambar danau, lalu ada tentang gedung pencakar langit di perkotaan Jakarta.

Mungkin saya harus menceritakan ke kalian terlebih dahulu, awalnya dari kisah ini. Ini kejadiannya saat ujian akhir semester, tiga minggu yang lalu. Saya saat itu sedang sendirian di kamar belajar untuk menghadapi ujian besok.

Posisi saya saat itu sedang rebahan di atas kasur. Saat itu, mata kuliah yang akan diujikan berkaitan dengan matematika. Karena itu, saya sibuk menulis angka-angka di buku corat-coret saya. Belajar-belajar, tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 3 pagi. Mata pun terasa berat. Tetapi saya terlalu malas untuk meletakkan kembali buku dan pensil ke meja belajar. Dan begitulah saya pun tertidur…

 

Keesokan harinya, saya dikejutkan dengan bunyi alarm dari handphone saya. Buru-buru saya menutup handphone saya, dan beranjak dari ranjang. Ujian jam 10. Sekarang jam 8. Saya tidak perlu terlalu buru-buru, karena toh lokasi kost saya relatif dekat dengan kampus.

Jadi dengan santainya saya mengambil pensil dan buku untuk meletakkan ke meja. Tetapi belum sempat saya mengambil buku, mata saya langsung tertuju ke halaman buku yang sedang terbuka.

Alih-alih angka-angka hitungan yang saya tulis semalam, saya melihat sebuah lukisan laut. Di kejauhan terlihat sebuah kapal. Jantung saya langsung berdegup kencang. Saya 100% yakin buku coret-coret saya tidak ada lukisan ini sebelumnya.

Artinya lukisan ini dibuat semalam. Buru-buru saya cek kunci pintu kamar. Terkunci rapat. Saya cek jendela. Juga tidak ada tanda-tanda pernah dicongkel atau sebagainya.

Saya melihat sekeliling kamar saya seperti orang bodoh. Saya tahu tidak mungkin ada orang lain yang bisa masuk ke kamar ini. Tidak ada orang lain. Semalam hanya ada saya sendiri di kamar ini. Bagaimana mungkin bisa tiba-tiba ada lukisan.

Tetapi saya mengesampingkan hal itu, karena jam 10 akan ujian, jadi saya pun buru-buru ke kamar mandi.

Itulah lukisan pertama.

 

Saya agak tidak konsentrasi dalam ujian itu, gegara memikirkan asal-muasal lukisan itu. Tetapi masalahnya saya masih ada 1 ujian lagi. Jadi malam harinya saat belajar, saya memutuskan duduk di meja belajar saja. Jangan rebah di kasur. Dan sebelum tidur, saya memastikan tidak meletakkan buku tulis dan pensil di kasur lagi.

Dan memang, keesokan paginya tidak ada lukisan baru. Saya menghela napas tenang. Mungkin saya ngingau, dan alam bawah sadar saya mungkin ada bakat melukis, batin diriku. Ini mungkin bisa jadi bahan candaan dengan teman.

Akhirnya ujian pun selesai. Seiring dengan berakhirnya ujian, kampus pun libur selama dua bulan. Bagi yang berniat mengambil semester pendek, mereka bisa tetap melanjutkan kuliah. Tetapi mayoritas mahasiswa libur. Saya terlalu malas untuk pulang ke rumah. Saya memutuskan tetap tinggal di kos selama liburan kuliah. Menurut saya lebih santai di kost, karena saya bisa main game sepuasnya…

Namun inilah kelanjutan dari keanehan. Waktu itu saya sehabis main game dan memutuskan langsung tidur. Keesokan harinya saya menemukan pensil dan buku tulis saya sudah ada dikasur. Saya buru-buru membuka lembaran buku saya. Dan ternyata…

Ada lukisan baru lagi.

Kali ini sebuah lukisan gedung-gedung. Saya menangkap ini sepertinya gedung pencakar langit di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Mengapa saya bisa begitu yakin? Karena dalam lukisan tersebut bagian tengah-tengahnya adalah jalan raya didampingi dengan gedung-gedung tinggi di kiri kanan. Lalu di kejauhan, terlihat siluet Monumen Selamat Datang. Dua orang mengangkat tangannya, seolah-olah menyapa saya…

Saya memutuskan bercerita ke teman sekost.

Sekarang kost relatif sedang sepi, karena sebagian anak-anak sudah pada pulang. Tetapi di situ masih ada Banu dan Riko. Mereka melihat dua lukisan, tidak agak sangsi. Tetapi melihat mimik saya yang serius, akhirnya mereka pun percaya bahwa ini merupakan kejadian yang tidak normal.

“Memang tidak mungkin ada yang iseng banget menyelinap ke kamar lo, trus ngelukis sih. Kalo pun ada, kurang kerjaan banget tuh orang,” kata Banu sambil melipatkan tangannya.

“Jangankan menyelinap ke kamar. Gimana caranya masuk? Wong pintu kamar terkunci…” timpal Riko.

“Iya. Saya beberapa hari ini sudah mengetuk seluruh bagian dinding dan lantai untuk memastikan betul-betul tidak ada pintu rahasia,” ujar saya.

“Lo kira kost ini apaan, sampai ada pintu rahasia segala,” celetuk Riko.

“Mungkin hanya satu-satunya cara untuk yakin, kalo dirimu yang melukis,” ujar Banu.

“Apa?” saya rasa saya sudah tahu apa ide dia.

“Kita akan ngawasin lo selama lo tidur. Dan merekamnya kalo kamu tiba-tiba mulai melukis dalam tidur,” jawab Banu.

“Setuju!” tukas Riko semangat.

“Tapi kalian betul-betul mau? Maksudku. Gak tiap malam saya melukis. Dan juga, jangan-jangan kalo saya diperhatikan, malah gak akan melukis…”

“Kita gak akan tahu kalau gak dicoba. Udah! Pokoknya mulai malam ini, kami akan nongkrong di kamarmu. Saya biasanya juga ngalong ampe subuh baru tidur. Jadi kalo ada apa-apa, saya bisa tahu,” jawab Banu.

Dan begitulah mereka sudah 2 hari melewatkan malam di kamarku. Selama dua hari itu juga tidak ada apa-apa. Riko mulai merasa bosan. Lagian kalau memang terbukti saya melukis dalam tidur, trus kenapa?

Tetapi pada hari ketiga pagi, ketika saya terbangun, saya melihat Riko dan Banu masih di kamar saya.

“Tumben, biasanya kalau pagi kalian udah di kamar masing-masing…” celetuk saya sambil usap-usap mata. Mata saya langsung tertuju pada buku catatan yang dipegang Riko. Sepertinya semalam saya mengingau lagi…

“Nonton ini dulu, baru kita bahas nanti,” ujar Banu sambil menyodori ponselnya ke saya.

Saya menekan tombol play. Suara kipas angin terdengar di dalam speaker handphone itu. Itu suara kipas angin kamar saya. Di dalam layar, saya melihat Riko berdiri tegang menatap kamera. Banu yang sedang merekam. Di kasur, saya sedang tertidur. Tetapi betulkah saya sedang tertidur? Mengapa posisi saya sedang duduk bersila? Saya tidak ingat melakukan itu….

“Saya tidak sempat merekam dari awal. Soalnya kamu mendadak bangkit dari ranjang, ke meja tulismu ambil buku dan pensil, lalu duduk kembali di kasur,” cerita Banu.

“Trus…” saya ingin bertanya, tetapi langsung dipotong Riko.

“Kamu nonton sampai habis dulu, baru kita obrol.”

Beberapa menit kemudian, adegan di kamera membuat saya berkeringat dingin.

 

Bersambung