Aku terdiam sejenak. “Sekarang.. Apa yang harus aku lakukan?”

“Mematahkan kutukannya..”

“Caranya ?”

“Ada dua cara. Cara yang pertama kau sudah pernah melakukannya. Sherina selalu berusaha mendekatimu. Setiap ada kesempatan dia selalu akan mencelakaimu. Kalau kau melakukan sesuatu dengan tulus itu akan membuat sisi gelapmu lebih kuat. Dia akan pergi, tapi ini hanya sementara.”

“Apa yang kedua?”

“Yang kedua, kau hanya perlu menyadarkannya. Tapi itu sangat rumit. Karena dirinya sudah dipenuhi dendam. Namun itulah satu-satunya cara untuk menghentikan ini semua. Ingat, hanya kau yang bisa melakukannya.”

“Aku. Kenapa bukan yang lain?”

“Karena kau seorang Duchanel.. Hanya kau yang bisa menyadarkannya. Mungkin… Mungkin mereka mungkin bisa sedikit membantumu..”

Tiba-tiba

Bruk..

Seseorang menendang pintu hingga terbuka.

“Flare ??”

Ketika Flare masuk, Zeera sudah menghilang.

“Aku mengikutimu sampai ke sini karena kau sangat mencurigakan sejak pagi tadi.”

Aku terharu mendengar kata-kata Flare.

“Apa Liana sudah tidur?”

Flare menatap saya lalu keluar lagi. Seperti melupakan sesuatu.  “Liana kenapa lambat sekali,” dia berlari menyusul Liana. Ternyata Liana ada di luar berjalan menuju ke kamar.

“Jangan berteriak. Aku melihat Mrs Alexa di lantai 2. Kita bisa terdengar nanti,” ucap Liana.

 

“Zeera ?”

Zeera kembali menampakkan dirinya. “Berikan buku ini pada Alexa. Dia pasti akan membantumu. Pergilah lantai lima apabila kamu telah siap..” Zeera kembali menghilang. Aku menerima buku itu.

Lantai lima. Itu adalah lantai yang dilarang di sekolah. Tetapi untuk menyelesaikan ini semua, inilah saatnya, batinku.

Aku pun bergegas keluar, “Flare. Ikut aku ke lantai 5,” seruku pada Flare. Kemudian sambil mengulurkan buku diari ke Liana, “Liana, antar buku ini ke ruang Mrs Alexa. Jangan sampai dia melihatmu!”

Mereka terihat bingung. Namun aku mempercayai mereka semua. Liana akhirnya mengangguk dan turun ke lantai dua. Flare dan aku menuju lantai terlarang, lantai 5. Kami berlari dengan sangat hati-hati.

***

Lantai lima

Aku tidak percaya aku pergi ke sini. Tempatnya biasa saja. Namun terasa hawa seram mencekam.

“Ellena Duchanel..” suara penuh dendam kembali terdengar.

“Kau dengar itu Flare ?” tanya

“Bersiaplah, ” suara itu terdengar sangat dekat!

“Sherina Tate !” seruku dan Flare bersamaan.

“Jadi kalian sudah siap mati.” Sherina menampakkan dirinya.

Flare memelukku yang gemetaran “Ellena, kau tau ini hari apa?” tanya Sherina.

“Hari kematian Zeera Thodora. Dan juga hari kelahiranku…” jawabku tegas.

“Dan… Hari ini juga hari hidupmu akan berakhir.” Tiba-tiba sebilah pisau melayang ke arahku. Aku dan Flare berjalan mundur terus ke belakang. Dan..

“What! Sudah di pojok!” seru kami berdua.

“Kau harus mati…”

Aku menelaan ludah, namun..

Prang

Aku melempar pisau tersebut. “Aku tidak akan mati karena.. Hari ini adalah hari di mana aku terlahir di dunia ini..!”

Tidak lama Mrs Alexa dan Liana datang.

“Mrs Alexa !”

“Alexa.. Kita jumpa lagi”

“Hentikan semua ini Sherina!” kata Mrs Alexa.

“Apa kau sadar… Canterlot terbakar karena kau. Zeera tewas karena kau. Sahabat-sahabatmu tewas karena kau. Roselyne….” Mrs Alexa berhenti bicara dan menangis.

“Kalian hanya peduli pada Zeera. Aku tau dia pintar, rajin. Sedangkan aku..”

“Itu tidak benar.. Kami semua menyayangimu… Sherina,” jawab Mrs. Alexa lagi.

“Itu benar…” Tiba-tiba sebuah sosok muncul. Sosok yang yang sangat familiar. Suara yang sangat kuhafal.

“Nenek ?”

“Roselyne ?” Sherina terlihat terkejut.

“Kami semua menyayangimu Sherina… Sekarang lihat apa akibatnya,” nenek berjalan maju ke hadapan Sherina.

“Maafkan aku semuanya…” Sherina terlihat menyesal.

Nenekku, Mrs Alexa, dan Sherina berdekatan.

 

“Selamat ya.. Kau berhasil menyadarkan Sherina. Kau menyelamatkan sekolah ini, Ellena,” Zeera tiba-tiba muncul.

“Zeera, aku minta maaf”

“Tidak apa ..”

Nenekku, Mrs Alexa, Zeera dan Sherina berpelukan

“Nenek” ucapku sambil menangis.

“Sampaikan salamku pada mama,” kata nenek.

“Ini bukan alam kita lagi. Ayo kita pulang.”

Nenekku, Zeera, dan Sherina tiba-tiba menghilang.

“Liana, Ellena. Aku pulang ya..” kata Flare tiba-tiba.

“Maksudnya..?” tanya liana “Ini bukan alamku…”

“Jadi kauu…”

“Ya..”

“Sudah ya, kalian yang akur di kamar. Aku pulang dulu ya.. sampai jumpa..” Aku dan Liana menangis menerima kenyataan kalau ternyata Flare itu arwah.

***

“Ellena…” panggil mama.

“Apa tidak bisa dipikirkan lagi ma.. Ellena tidak mau pindah sekolah..” rengekku.

“Tidak… ayo ucapkan selamat tinggal”

Aku berlari menemui Liana. “Liana…”

“Kau jahat Ell..” Liana menangis di pelukanku “Aku akan terus mengirim surat.”

“Janji..”

“Janji…”

“Selamat Tinggal Canterlot…”

***

“Ini mah sekolah barunya?” tanyaku.

“Ya ,baguskan?”

“Bagus sih tapi…”

Kriiiiiiing. Suara bel berbunyi.

“Udah bel masuk sana.”

“Ya ma” aku melambaikan tangan pada mama

“Perkenalkan…” ucapanku terhenti aku melihat gadis berlumuran darah di pojok kelas. “Siapa ya..” batinku.. Dari seragam.. Eh? Seragam Canterlot. Apa yang..

“Nona..” tegur ibu guru

“Ekhem.. Maaf semuanya.. Namaku Ellena Duchanel. You can call me psychopath”

Tamat


Yang mau berbagi tips atau saran silahkan dengan Caca. Silahkan diberi komentar. Info penulis lebih lanjut, kunjungi Instagram beserta Gmail di bawah ini.
Instagram : @kalisya.p
Gmail : Kalisya26prsyt[at]gmail.com