Suku Minangkabau terkenal dengan masakan rendang. Namun selain itu, dalam legenda rakyat dan urban legend masyarakat di sana , ternyata juga tidak sedikit makhluk-mahkluk gaib yang terkadang cukup mengganggu. Cerita Mistis akan memaparkan kisah-kisahnya.

Palasik adalah makhluk gaib menurut orang-orang Melayu dan Minangkabau. Mereka ini bukanlah hantu, melainkan orang yang memiliki ilmu hitam tingkat tinggi. Konon dipercaya bahwa mereka sering mengincar bayi-bayi, karena darah bayi dan balita merupakan makanannya.

Jadi tidak heran jika ada bayi yang sakit, yang terbesit pertama dipikiran orang-orang adalah Palasik. Tetaapi sekarang sudah berbeda, zaman sekarang dianggap sebagai kekurangan gizi yg akut mungkin karena cacingan atau memang input makanan yg kurang bergizi maupun disebabkan penyakit lain.

Salah satu antisipasi supaya tidak kena palasik, si anak dionyokkan(onyok = “memperlihatkan sesuatu dengan tangan, menyodorkan”) kepada terduga palasik Sehingga diyakini palasik tidak bisa beraksi. Kalau tidak dionyokkan, maka diusahakan si anak tidak ketemu/kelihatan oleh palasik tersebut.

Panangga

Panangga walau secara deskripsi mirip dengan Palasik, namun di beberapa daerah, mereka pada hakikatnya berbeda. Karena panangga tidak mendatangkan akibat negatif secara langsung pada masyarakatnya.

Paling-paling kalau sedang ada acara di suatu keluarga dan sedang memasak rendang, selalu ada yg berada dekat tungku semalaman menjaga rendang itu.

Kalau tidak, bisa “dicucuik” panangga. Sehingga besok hari rendangnya kelihatan pucat tidak berminyak lagi. Karena itu rendang yg kelihatan kurang berminyak sering plesetkan sebagai telah “dicucuik” oleh si panangga.

Kalau dia beraksi badannya akan terpotong secara diagonal. Sisa badannya ditinggal dirumah. Potongan yang lain berkeliaran dikampung dan sekitarnya dengan meloncat-loncat.

Pernah ada cerita seorang tetua yang berpambayan (istri mereka bersaudara) dengan salah satu panangga ini. Pada malam saat si panangga ini sedang ber-“tangga”.¬† Potongan badannya yang tinggal, ditusuki dengan “saga” enau. Akibatnya menjelang subuh waktu tubuhnya mau menyatu lagi, tidak bisa dengan sempurna.

Seharian dia tidak bisa keluar kamar. Demam dan selalu berselimut. Besok malamnya waktu badannya lepas lagi baru saga dicabut.
Kemudian hampir subuh badannya bisa menyatu lagi dengan  sempurna.

Dengan kondisi begitu, dia akan semakin segan pada sang pambayan. Di suatu kampung, karena dianggap semacam aib. Biasanya yg palasik atau panangga ini, sulit mendapat jodoh orang kampungnya sendiri.
Sehingga mereka banyak berjodoh dengan orang luar. Yang agak mengherankan , rata-rata mereka secara ekonomi berada di atas dari
kebanyakan orang kampung.

Selama tahun 1980an, keluarga yg dianggap bermasalah ini memang sulit berjodoh dikampung. Setiap pinangan mereka selalu ditolak dengan halus. Sehingga kebanyakan mereka berjodoh dengan orang luar.

Sekarang karena itu sudah dianggap tidak ada lagi dan karena silau dengan kekayaannya. Sudah banyak mereka yang dapat jodoh di kampung.

Antu Aru-Aru

Antu Aru-Aru biasanya menyebabkan orang tersesat baik anak-anak maupun orang dewasa. Yang mengherankannya, sering sang korban ditemukan diatas pohon Aru/Waru yang penuh duri. Dan dia mampu berada di atas pohon tanpa luka.

Justru waktu penyelamatannya yang sering bermasalah karena ada resiko tertusuk duri. Jadi orang yang dikatakan sebagai dilarikan Antu Aru-Aru sering ditemukan di tempat yang tidak terduga dan selalu beresiko/tidak masuk akal kalau dia bisa sampai
sendiri ke sana dengan secara normal.

Untuk mengantisipasi supaya tidak dilarikan Antu Aru-Aru sering orang yang masuk hutan memakai pakaian secara terbalik. Begitu juga penolongnya yang akan mencari orang yang diduga dilarikan Antu Aru-Aru akan memakai pakaian terbalik.